19.10.10

Sekilas-Minyak Sereh Dapur


Minyak sereh dapur merupakan salah satu jenis minyak atsiri terpenting. Minyak atsiri ini digunakan untuk menghasilkan sitral yang merupakan konstituen utama dari minyak sereh dapur. Sitral merupakan bahan pembuat ionon. Minyak sereh dapur memiliki bau lemon yang keras karena mengandung kadar sitral yang tinggi (75% sampai 85%) sehingga minyak sereh dapur dinamakan lemon grass oil. Minyak sereh dapur dapat digunakan sebagai bahan baku dalam industri kosmetik, sabun (Guenther, 1990; Sofyan Rusli et al, 1985), bumbu masak, obat gosok terhadap sakit encok, sakit gigi, dan obat sengatan serangga (Soepardi, R, 1984).
Di Indonesia sendiri, minyak sereh dapur masih kalah pamor dengan minyak sereh wangi. Padahal sereh dapur termasuk jenis tanaman yang mudah dalam hal budidaya dan perawatan. Hama dan penyakit yang menyerang tanaman ini boleh dikatakan tidak ada. Begitu pula minyak atsirinya lebih bernilai dibandingkan minyak sereh wangi. (http://ferry-atsiri.blogspot.com/2006/10/minyak-sereh-dapur-lemongrass-oil.html).
Pada umumnya sifat fisiko kimia dari minyak atsiri bervariasi, sehingga sukar diperoleh kualitas yang tetap. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor diantaranya penanganan pasca panen dari tanaman tersebut, seperti pada daun nilam yang dilakukan fermentasi terlebih dahulu sebelum minyak atsirinya disuling. Faktor lain disebabkan dari perlakuan bahan olah sebelum dilakukan pengambilan minyak atsiri. Sebagai contoh ialah minyak permen (Oleum Menthae Piperatae) yang berasal dari bahan segar dan kering, yang mempunyai sifat berbeda. Menurut Von Rechenberg dimana minyak dari bahan segar mempunyai bobot jenis lebih kecil dibanding dari bahan kering. Sedang menurut Schimel et al, minyak dari akar lovage segar tidak menghasilkan resin dalam jumlah yang kecil (Guenther, 1987; Ketaren, 1985).
Daun sereh dapur biasanya disuling pada saat masih segar, tetapi pada saat jumlah pann yang besar rumpun yang baru dipotong atau dipangkas tidak dapat segera disuling, sehingga sebagian rumpun hasil panen dihamparkan di lapangan atau dibiarkan tertimbun dalam suatu ruangan, yang mengakibatkan rumpun tersebut menjadi setengah kering atau layu. Penimbunan ini sering dilakukan akibat hambatan alat penyulingan yang kapasitasnya kurang besar atau juga disebabkan tidak adanya pabrik penyulingan yang dapat menampung dalam jumlah besar (Guenther, 1990)
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dimana daun sereh dapur yang disuling pada keadaan segar, pelayuan selama 3 hari serta pelayuan 8 hari pada ruang dengan sirkulasi terbuka pada suhu 25-34oC dan kelembaban udara 57-87%, menunjukkan hasil yaitu proses pelayuan sampai dengan 8 hari tidak berpengaruh terhadap kadar total minyak atsirinya. Sedangkan selama proses pelayuan tersebut terjadi kenaikan kadar sitral-a, sitral-b yang sesuai dengan semakin lamanya waktu pelayuan dan sebaliknya terjadi penurunan kadar nerol, geraniol, dan linalol. Berdasarkan fakta tersebut diatas maka selama proses pelayuan mungkin terjadi oksidasi komponen alkoholnya (nerol, geraniol, dan linalol) menjadi bentuk aldehidnya (sitral-a dan sitral-b). Salah satu penyebab terjadinya peruraian senyawa yang akan diisolasi kemungkinan adalah adanya reaksi oksidasi atau hidrolisis yang dikatalisa oleh enzim (Windono et al, 1992).
Menurut penelitian yang telah dilakukan, di dalam daun sereh dapur terjadi perubahan geraniol menjadi geranial (sitral-a) dan nerol menjadi neral (sitral-b) dalam reaksi oksidasi yang dikatalisis oleh enzim geraniol dehidrogenase (Singh N-Sangwan et al, 1993). Umumnya untuk mematikan jaringan tumbuhan guna mencegah terjadinya oksidasi enzim dapat dilakukan dengan cara merendam daun segar atau bunga, bila perlu dipotong-potong ke dalam etanol mendidih (Harborne, 1997; Nurono, 1992).
Pada umumnya minyak sereh dapur diperoleh dengan cara penyulingan air ataupun penyulingan air-uap karena alat yang digunakan sederhana, mudah diperoleh, mudah dilakukan dan murah bila dibandingkan dengan menggunakan cara lain (Anonymous, 1985). Akan tetapi menggunakan kedua metode ini rendemen minyak yang diperoleh tidak maksimal dan mutu minyak cenderung kurang bagus. Metode lain yang digunakan untuk mendapatkan minyak atsiri adalah dengan ekstraksi dengan pelarut yang mudah menguap. Kelemahan dari metode ini adalah biaya yang dibutuhkan relatif lebih mahal dan dibutuhkan tenaga ahli untuk melakukan metode ini. Akan tetapi dengan menggunakan metode ini dapat diperoleh rendemen minyak yang lebih banyak dan kualitas minyak yang lebih bagus dibandingkan kedua metode sebelumnya.
 (bagian dari Bab I usulan PKM ku ^^)

0 comments:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More