Hanya kumpulan website yang saya sering kunjungi

Saya sangat menyukai kpop ataupun kvariety, ini adalah beberapa situs atau blog yang pernah saya kunjungi, silahkan dilihat :).

Hanya Sebuah Cerita Kecil

Siapapun, termasuk saya pernah merasakan hal ini, sebuah rasa yang dinamakan patah hati.

Pembuatan Minyak Kelapa Sawit

Ini adalah tugas dari mata kuliah teknologi minyak nabati yang pernah saya tempuh.

Anjang Karya ke PT Pertamina RU VI Balongan

Salah satu perusahaan yang kami kunjungi waktu anjang karya adalah PT Pertamina RU VI Balongan.

Update Praktikum OTK :)

Beberapa update untuk laporan praktikum :).

30.10.10

Please vote 2AM, GaIn, Jokwon & GaIn @ MAMA 2010


MAMA2010! Please vote ! (klik)
Tutorial buat vote, klik disini

Hasil vote per 30 Oktober 2010 (lihat)

Best New Male Artist            : 
  • C.N. Blue (LOVE)                                  (53,6%)
Best New Female Artist         : 
  • Miss A (Bad Girl Good Girl)                  (53,8%)
Best Male Group                   : 
  • Superjunior (BONAMANA)                      (35,8%)
          currently, 2 AM ada di posisi ke 4 dengan (14,1%) Please vote :)
Best Female Group                 : 
  • 2NE1 (Can't Nobody)                              (40,3%)
Best Male Solo Artist              : 
  • Rain (Love Song)                                       (30,4%)
Best Female Solo Artist           :
  • BoA (Hurricane Venus)                              (36   %)
Best Solo Dance Performance : 
  • Rain (Love Song)                                         (24,8%)
Best Dance Performance by Male Group : 
  • Superjunior (BONAMANA)                          (34,3%)
Best Dance Performance by Female Group : 
  • Miss A (Bad Girl Good Girl)                        (31,7%)
Best Solo Vocal Performance  : 
  • GUMMY (As a Man)                                    (29,8%)
Best Group Vocal Performance : 
  • 2 AM (Even If I Die I Can't Let You Go)    (48,9%) Please tetap vote yaa ! :D
Best Band Performance             : 
  • FT Island (Love Love Love)                           (36,4%)
Best Rap Performance               : 
  • Supreme Team (Dang Dang Dang)               (30,6%)
Best Collaboration                     : 
  • Ga In & Jo Kwon (We Fell in Love)            (40,8%) Tetap vote ya ! :D
Best Digital Single                      : 
  • Park Bom (You and I)                                     (36,4%)
Song of The Year                      : 
  • Superjunior (BONAMANA)                              (31%)
          currently, 2 AM ada di peringkat  7 (Even If I Die I Can't Let You Go)            (4 %)
                         Ga In & Jo Kwon (We Fell in Love)  di peringkat 14                        (0,9%)
                         Ga In (Irreversible) di peringkat 15                                                   (0,8%)
                         Please support with vote :)
Artist of The Year                       : 
  • Superjunior (BONAMANA)                              (32,1%)
      currently,2AM (Even If I Die I Can't Let You Go) di peringkat 6 (4,9%). Please support with vote  :)
Best Music Video                       :
  • 2NE1 (Can't Nobody)                                     (28,3%)
          currently, Ga In (Irreversible) ada di peringkat 2   (26%) Please vote :)

Wah, rata-rata dinominasi SME, JYPE, dan YGE. Fightiiing :DD
Sayang banget nih, kalo SME tetep nglarang artisnya dateng ke MAMA, lumayan banyak tuh sekarang artis SME yang jadi nominee. Untuk sementara, BoA dan Superjunior juga ada di posisi 1. Artis SME lain seperti SNSD (Girl Generation) dan SHINee juga jadi nomine. Sayang banget kan, kalo acara musik kan setiap minggu ada, tapi kalo MAMA kan cuma setaun sekali. Moga aja om SM mengizinkan artisnya buat datang :)  .  Sebagai IAM, aku sih (secara pribadi) pengen 2AM yang menang, hehee :DD. Tapi tetep seneng deh, di hasil vote sementara 2AM jadi nomor 1 di Best Group Vocal Performance, juga Ga In & Jo Kwon di Best Collaboration. Adam couple, daebaaakk !!! :D. ( i wish Ga In will be nomor 1 in Best Movie Video <3 ).


Like crazy







Romanization
Ajig gaseumi apeun guhn chamado noonmoori naneun guhn

Eebeuron eejuhtda marhaedo najocha soqyuhboryuhgo haedo
Nuhr eejji mothaesuh geuruhn guhrasuh

Michin deushi noonmoori na eeruhda na juhngmal mooseun eel nar guh gata
Boran deushi jar sara bogo shipeundeh uhdduhghae na gyesok noonmoori na

Mooseun jarmoseur han guhnji
Mwuhga nuhreur dduhnageh han guhnji

Eeyooreur ar sooga uhbsuhsuh geuruhn naega nuhmoona boonhaesuh
Eejuhboryuh haedo gyurgook nuhrasuh


Michin deushi noonmoori na eeruhda na juhngmal mooseun eel nar guh gata
Boran deushi jar sara bogo shipeundeh uhdduhghae na gyesok noonmoori na

Juhngmar eeyooneun moreugettjiman naega mwuhrado nuhr suhbsuhbhageh haetgetji
Da niga mateunigga naega teullin guhnigga
Doraman wajwuh ee noonmooreur mumchwujwuh

Michin deushi noonmoori na eeruhda na juhngmal mooseun eel nar guh gata
Boran deushi jar sara boryuh haetneundeh noonmoorman na gyesok michin deushi

ENGLISH

My heart still hurts, I can’t hold in my tears

Even though I said I had already forgotten, even if I try to lie to myself
Because I still can’t forget you

My tears falling like crazy, at this rate, what am I going to do
I want to live proudly, what to do, my tears keep falling

What did I do wrong
Why did we separate

I don’t know the reason, I’m so furious
No matter how hard I try to forget, in the end it’s still you

My tears falling like crazy, at this rate, what am I going to do
I want to live proudly, what to do, my tears keep falling

Even though I really don’t know the reason, no matter what I do will make you mad, right
Because you’ve always right, and I’m always wrong
Let’s go back, stop my tears from falling

My tears falling like crazy, at this rate, what am I going to do
I want to live proudly, my tears keep falling like crazy
Lyrics via 2IIAM
Romanization by Sensayshun @ W2D
Translated by khy127 @ W2D

27.10.10

Audit Energi Listrik dan Pemanasan Global

Listrik merupakan bentuk energi yang paling cocok dan nyaman bagi manusia modern. Makin bertambahnya konsumsi listrik per kapita di seluruh dunia menunjukkan kenaikkan standar kehidupan manusia. Dengan pertumbuhan permintaan tenaga listrik, maka harus direncanakan pembangunan pusat-pusat listrik baru, atau menciptakan bentuk-bentuk energi baru untuk mendukungnya; apabila kapasitas pusat listrik yang ada pada saat ini tidak cukup mendukungnya. Pembangunan tenaga listrik memerlukan dana yang besar dan waktu yang lama, selain juga pertimbangan-pertimbangan politis, ketersediaan bahan bakar dan sumber daya manusianya. Untuk dapat dicapai tujuan yang seimbang antara pemenuhan kebutuhan pada saat sekarang maupun pertumbuhan permintaan tenaga listrik dan penyediaannya, dilakukan penghematan baik dari sisi penyedia listrik maupun dari sisi pengguna tenaga listrik.

B. PEMAKAIAN TENAGA LISTRIK
Pemakaian tenaga listrik oleh konsumen berubah-ubah setiap waktu, maka Pusat-pusat Listrik membangkitkan daya sesuai dengan permintaan yang berubah-ubah tersebut. Perubahan beban dan perubahan pembangkitan daya juga menyebabkan aliran daya dalam saluran-saluran transmisi berubah-ubah sepanjang waktu. Apabila daya nyata yang dibangkitkan oleh Pusat-pusat Listrik lebih kecil daripada daya yang dibutuhkan oleh para pelanggan, maka frekuensi akan turun, sebaliknya apabila lebih besar, frekuensi akan naik. Pusat Listrik berkewajiban menyediakan tenaga listrik yang frekuensinya tidak menyimpang dari 50 Hertz.
Penyediaan tenaga listrik diupayakan dengan biaya serendah mungkin dengan tetap menjaga mutu dan keandalan. Dalam proses penyediaan tenaga listrik tidak dapat dihindarkan timbulnya rugi-rugi dalam jaringan disamping adanya tenaga listrik yang harus disisihkan untuk pemakaian sendiri. Proses pembangkitan tenaga listrik dalam Pusat-pusat Listrik Thermis memerlukan biaya bahan bakar yang lebih mahal daripada Pusat-pusat Listrik dengan menggunakan tenaga air. Biaya bahan bakar serta rugi-rugi dalam jaringan merupakan faktor-faktor yang harus ditekan agar menjadi sekecil mungkin dengan tetap memperhatikan mutu dan keandalan. Mutu dan keandalan tenaga listrik tidak sematamata merupakan masalah operasi sistem tenaga
listrik, tetapi erat kaitannya dengan pemeliharaan instalasi tenaga listrik dan juga erat kaitannya dengan masalah pengembangan sistem tenaga listrik, mengingat bahwa konsumsi tenaga listrik oleh pelanggan selalu bertambah dari waktu ke waktu. Oleh karenanya hasil-hasil operasi sistem tenaga listrik perlu dianalisa dan dievaluasi untuk menjadi masukan dalam perencanaan pengembangan tenaga listrik. Mutu tenaga listrik yang baik merupakan kendala (constrain) terhadap biaya pengadaan tenaga listrik yang serendah mungkin, maka kompromi antara kedua hal ini perlu direncanakan dengan optimal.

C. PENGATURAN PEMAKAIAN TENAGA LISTRIK
• Manfaat pengaturan pemakaian energi listrik bagi perusahaan listrik adalah :
1. Dapat mengurangi biaya bahan bakar, biaya operasi dan biaya pemeliharaan.
2. Dapat menunda pembangunan pembangkit listrik dan jaringan listrik dalam rangka memenuhi pertumbuhan permintaan tenaga listrik.
3. Dapat tetap menjaga ketersediaan pasokan tenaga listrik, karena kapasitas yang mampu melayani permintaan tenaga listrik dapat dihemat.
• Manfaat pengaturan pemakaian energi listrik bagi pengguna tenaga listrik adalah :
1. Dapat menghindari pemadaman bergilir yang dikarenakan ketidakmampuan pusat listrik untuk mensuplai tenaga listrik sesuai permintaan. Hal ini terjadi pada saat permintaan tenaga listrik secara bersamaan pada waktu tertentu yang sering disebut sebagai waktu beban puncak.
2. Dapat menghemat sumber daya alam, dimana bahan bakar yang diproduksi dari alam dan tidak dapat diperbaharui dapat dihemat.
3. Dapat memberikan kesempatan penyediaan tenaga listrik bagi masyarakat yang belum menikmati tenaga listrik. Sebab dengan pengurangan pemakaian tenaga listrik, berarti ada sisa kapasitas tersedia yang dapat disalurkan ke masyarakat yang belum menikmati tenaga listrik.
• Sasaran pengaturan pemakaian energi listrik adalah :
1. Konservasi energi, adalah program untuk menurunkan/menghemat pemakaian tenaga listrik.
2. Pemangkasan beban puncak, adalah program untuk mengurangi beban pada waktu beban puncak. Hal ini pada umumnya dilakukan untuk memperbaiki sistem pasokan/penyaluran tenaga listrik dengan pemadaman atau pengurangan beban untuk pengguna tenaga listrik bukan industri.
3.Pengalihan beban, adalah program untuk menggeser beban dari waktu beban puncak (WBP) ke luar waktu beban puncak (LWBP), sehingga diperoleh pembebanan pada saat LWBP meningkat. Dengan demikian akan diperoleh penghematan pemakaian bahan bakar, karena pendukung beban dasar adalah pembangkit yang menggunakan bahan bakar lebih murah.
• Metode Pengaturan Pemakaian Tenaga Listrik
• Efisiensi penerangan
1. Gunakan lampu hemat energi
2. Menghidupkan lampu hanya pada saat diperlukan saja
3. Mewarnai dinding, lantai dan langit-langit dengan warna terang, sehinga tidak membutuhkan penerangan yang berlebihan.
4. Memasang lampu penerangan dalam jarak yang tepat dengan obyek yang akan diterangi.
5. Mengatur perlengkapan rumah agar tidak menghalangi penerangan.
• Lemari pendingin
1. Memilih lemari es dengan ukuran/kapasitas yang sesuai.
2. Membuka pintu lemari es seperlunya, dan pada kondisi tertentu dijaga agar dapat tertutup rapat.
3. Mengisi lemari es secukupnya (tidak melebihi kapasitas).
4. Menempatkan lemari es jauh dari sumber panas, seperti sinar matahari, kompor.
5. Meletakkan lemari es minimal 15 cm dari dinding/tembok rumah
6. Tidak memasukkan makanan/minuman yang masih panas ke dalam lemari es.
7. Membersihkan kondensor (terletak di belakang lemari es) secara teratur dari debu dan kotoran, agar proses pelepasan panas berjalan baik.
8. Mengatur suhu lemari es sesuai kebutuhan karena semakin rendah/dingin temperatur, semakin banyak konsumsi energi listrik.
9. Mematikan lemari es bila tidak digunakan dalam waktu lama.
• Pengatur suhu udara (AC)
1. Memilih AC hemat energi dan daya yang sesuai dengan besarnya ruangan.
2. Mematikan AC bila ruangan tidak digunakan.
3. Mengatur suhu ruangan secukupnya, tidak menyetel AC terlalu dingin.
4. Menutup pintu, jendela dan ventilasi ruangan agar udara panas dari luar tidak masuk
5. Menempatkan AC sejauh mungkin dari sinar
matahari lansung agar efek pendingin tidak berkurang.
6. Membersihkan saringan (filter) udara dengan
teratur.
• Motor-motor
1. Memilih motor sesuai dengan kegunaan dan
kapasitas.
2. Menentukan seting tegangan yang tidak berlebihan. Untuk motor dengan range tegangan 380 V sampai dengan 400 V, sebaiknya di set pada tegangan 380 ~ 385 V.
3. Memilih motor-motor yang mampu mengontrol penyerapan daya listrik sesuai dengan beban. Motor elevator dengan muatan 9 orang, dipilih yang mampu menyerap daya kurang dari spesifikasi maksimum apabila penumpang kurang dari 9 orang.
4. Melakukan pemeriksaan terjadwal agar motor berfungsi sesuai dengan spesifikasinya.
• Audit energi

Audit energi merupakan analisa terhadap konsumsi energi dari suatu sistem dalam memanfaatkan energi.
o Langkah-langkah yang Diperlukan untuk Melakukan Audit Energi
1. Perencanaan
2. Pengumpulan data
3. Penentuan biaya
4. Identifikasi peluang penghematan
5. Penyusunan laporan

o Elemen yang diperlukan dalam rangka audit energi:
1. Diagram proses produksi
Skema yang menggambarkan alur proses produksi dimulai dari pengelolaan bahan baku dilanjutkan proses awal hingga akhir.
2. Diagram alir energi
Diagram yang menggambarkan pasokan awal listrik yang kemudian dikonversikan menjadi bentuk energi lain.
3. Data produksi
Diperlukan untuk penentuan biaya energi per satuan produk.

Zat Warna Sintetis-bagian2

Zat Pewarna untuk Tekstil

Ditinjau Dari sumber diperolehnya zat warna tekstil dibedakan menjadi 2 yaitu:
1. Zat pewarna alam, diperoleh dari alam yaitu bersal dari hewan (lac dyes) ataupun tumbuhan dapat berasal dari akar, batang, daun, buah, kulit dan bunga.
2. Zat pewarna sintetis adalah zat warna buatan (zat warna kimia) . Oleh karena banyaknya Zat warna sintetis ini maka untuk pewarnaan batik harus dipilih zat warna yang:
a. Pemakaiannya dalam keadaan dingin atau jika memerlukan panas suhu proses tidak sampai melelehlan lilin.
b. Obat bantunya tidak merusak lilin dan tidak menyebabkan kesukaran kesukaran pada proses selanjutnya.
Berikut pembagian kelas pewarna sintetis atau pewarna buatan untuk produk textile seperti kain, batik, pakaian, celana, jeans :
1. Acid Dye
Acid Dye , cocok untuk kain yang berasal dari jenis serat seperti sutera, wool, alpaca, mohair dan nilon. Berdasar struktur dan kelas kimianya maka pewarna acid dikategorikan dalam jenis anthraquinone (warna biru ), azo ( warna merah ), dan triphenylmethane ( warna kuning dan hijau ).
2. Basic Dye
Untuk pewarnaan kain jenis acrylic yaitu kain sintetis yang dibuat dari bahan polimer /polymer / polyacrylonitrile.

3. Direct Dye
Biasa digunakan bersama sodium chloride ( NaCl ) dan sodium sulfate (Na2SO4). Berasal dari pengolahan alkaline. Cocok untuk pewarnaan kain katun ( cotton ) , kulit, dan kertas. Juga dipakai untuk indikator keasaman atau pH.
4. Mordant Dye atau Chrome Dye
Merupakan pewarna sintetis untuk tehnik pewarnaan metode chrome. Penggunaan tehnik mordant dibagi tiga metode yaitu :
a. Pre-mordanting
b. Meta-mordanting
c. Post- mordanting
Ketiga metode tersebut menghasilkan efek warna yang berbeda. Penggunaan mordant untuk mewarnai juga melihat jenis kain yang akan diberi warna. Kain dari bahan katun jelas berbeda tehnik pewarnaan dengan kain wool ataupun sutera. Bahan kimia lain yang dibutuhkan dalam proses pewarnaan mordant adalah sodium sulphate, acetic, formic acid, lactic acid, sodium thiosulphate, Na atau K dichromate.
5. Reactive Dye
Digunakan untuk mewarnai kain jenis vinyl dan katun. Pertama dijual secara komersial pada tahun 1956. Saat mewarnai menggunakan suhu 40 hingga 80 derajat Celsius, setelah selesai kain dicuci dalam suhu 100 derajat Celsius. Berbentuk cair.
6. Sulfur Dye
Untuk mewarnai kain katun menjadi gelap. Prosesnya dengan direbus dalam suhu tinggi. Saat proses oksidasi digunakan hydrogen peroxide, bromate, dan iodate.
7. Pigments Dye
Selain digunakan untuk memberi warna kain pigment juga untuk memberi warna pada bahan dasar cat, sabun, wax, deterjen, dll.
8. Napthols
Biasanya untuk memulihkan warna kain jeans yang mulai pudar. Bisa berbentuk serbuk atau jeans yang mulai pudar. Bisa berbentuk serbuk atau cairan. Untuk menstabilkan naptol saat pewarnaan digunakan caustic soda dan formalin.
9. Fast Salt
Digunakan sebagai tinta pewarna dalam proses pewarnaan print dengan mesin printing.
Contoh Zat Pewarna Sintetis
1. Rhodamine B
Rhodamine, nama ini sudah tidak asing ditelinga kita karena juga disalahgunakan untuk mewarnai makanan. Rhodamine merupakan senyawa kimia murni yang berbahaya jika ditelan apalagi dalam waktu yang lama. Efek warna rodamine bersifat fluorine / fluorescents yaitu cerah menyala. Rhodamine dibagi menjadi Rhodamine B ( Rhodamine 610, C.I. Pigment Violet 1, Basic Violet 10, or C.I. 45170 ), Rhodamine 6 G, Rhodamine 123. Rhodamin B merupakan zat pewarna sintetik yang berbahaya. Rumus kimia Rhodamin B : C28H31N2O3Cl.
Rhodamine B termasuk bahan kimia berbahaya (harmful). Berbahaya bila tertelan, terhisap pernapasan atau terserap melalui kulit. Toksisitasnya adalah ORL - RAT LDLO 500 mg Kg-1 (www.scribd.com). Rhodamin B berbentuk kristal hijau atau serbuk-unggu kemerah-merahan, sangat mudah larut dalam air yang akan menghasilkan warna merah kebiru-biruan dan berflourensi kuat. Selain mudah larut dalam air juga larut dalam alkohol, HCl dan NaOH. Selain itu juga biasa dipakai dalam pewarnaan kertas, di dalam laboratorium digunakan sebagai pereaksi untuk identifikasi Pb, Bi, Co, Au, Mg, dan Th. Rhodamin B sampai sekarang masih banyak digunakan untuk mewarnai berbagai jenis makanan dan minuman (terutama untuk golongan ekonomi lemah), seperti kue-kue basah, saus, sirup, kerupuk dan tahu (khususnya Metanil Yellow), dan lain-lain (http://hendrinova.blogspot.com). Rhodamin B diperuntukan untuk bahan pewarna kertas, tekstil dan sebagai reagensia untuk pengujian Antimon, Cobalt, Bismuth dan lain lain (http://abahjack.com).
Nama lain Rhodamine B :
1. Acid Bruliant Pink B
2. ADC Rhodamine B
3. Aizen Rhodamine BH
4. Aizen Rhodamine BHC
5. Akiriku Rhodamine B
6. Briliant Pink B
7. Calcozine Rhodamine BL
8. Calcozine Rhodamine BX
9. Calcozine Rhodamine BXP
10. Cerise Toner
11. Cerise Toner X127
12. Certiqual Rhodamine
13. Cogilor Red 321.10
14. Cosmetic Briliant Pink Bluish D conc
15. Edicol Supra Rose B
16. Elcozine rhodamine B
17. Geranium Lake N
18. Hexacol Rhodamine B Extra
19. Rheonine B
20. Symulex Magenta
21. Takaoka Rhodmine B
22. Tetraetilrhodamine (http://ctella93.wordpress.com)
Rhodamin B merupakan zat warna yang berbahaya yang sering disalahgunakan mewarnai berbagai makanan dan minuman. Rhodamin B demikian juga Methanil Yellow dan Amaranth telah dilarang penggunaannya dalam makanan. Winarno 1989, melaporkan hasil penelitiannya terhadap berbagai jenis minuman rakyat yang termasuk kategori " Sheet Food" di daerah (www.scribd.com).
Menurut Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat, ciri-ciri makanan yang diberi Rhodamin B adalah warna makanan merah terang mencolok. Biasanya makanan yang diberi pewarna untuk makanan warnanya tidak begitu merah terang mencolok. Jika sudah pada puncaknya, maka Rhodamin B akan memperlihatkan efek pada tubuh. Tanda-tanda dan gejala akut karena Rhodamin B antaranya, jika terhirup dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan. Jika terkena kulit, dapat menimbulkan iritasi pada kulit. Kalau terkena mata, dapat menimbulkan iritasi pada mata, mata kemerahan, udem pada kelopak mata. Jika tertelan dapat menimbulkan gejala keracunan dan air seni berwarna merah atau merah muda (http://hendrinova.blogspot.com)
Rhodamin B yang digunakan untuk pewarna makanan melanggar Peraturan Menteri Kesehatan No 239/Menkes/Per/V/85 tentang Zat Warna Tertentu yang dinyatakan sebagai Bahan Berbahaya. Rodamin B sering disalah gunakan untuk pewarna pangan dan kosmetik. misalnya : sirup, lipstik dll. Penyalah gunaan rodamin B sangat berbahaya bagi kesehatan.
Paparan rodamin B dalam waktu yang lama kronis) dapat menyebabkan gangguan fungsi hati / kanker hati. Pewarna makanan / minuman untuk warna merah sebaiknya disarankan memakai pewarna alam atau pewarnaSintetik yang aman sesuai dengan permenkes No 772/Menkes/Per./IX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan. Bahan pewarna sintetis yang dianjurkan adalah Karmin,Merah allura (http://abahjack.com).
B. Rhodamine B dalam Kosmetik
Efek Rhodamine B pada kosmetik adalah pada proliferasi dari fibroblas yang diamati pada kultur sistem. Rhodamine B pada takaran 25 mikrogram/ml dan diatasnya secara signifikan menyebabkan pengurangan sel setelah 72 jam dalam kultur. Studi ini menghasilkan bahwa 50 mikrogram/ml dalam rhodamine B menyebabkan berkurangnya jumlah sel setelah 48 jam dan lebih. Studi ini juga menyarankan bahwa zat warna rhodamine B menghambat proliferasi tanpa mengurangi penggabungan sel. Gabungan [3H] timidine dan [14C] leusin dalam fraksi asam tidak terlarut dari membran sel secara signifikan dihambat oleh 50 mikrogram/ml Rhodamine B.
Rhodamine 6G menyebabkan kerusakan sel yang parah dan rhodamine B secara signifikan mengurangi jumlah sel. Rhodamine 123 tidak memiliki efek yang berarti, sedangkan. Lebih jauh lagi, rhodamine B mengurangi jumlah sel vaskuler endothelial pada pembuluh darah sapi dan sel otot polos pada pembuluh darah hewan berkulit duri setelah 72 jam dalam kultur. Sehingga tidak berlebihan jika studi ini menyimpulkan bahwa rhodamine B menghambat proses proliferasi lipo fibroblast pada manusia (http://ctella93.wordpress.com)
2. Tartrazine
Struktur kimia tartrazin : C16H9N4Na3O9S2
Tartrazin (dikenal juga sebagai E102 atau FD&C Yellow 5) adalah pewarna kuning lemon sintetis yang umum digunakan sebagai pewarna makanan. Tartrazin merupakan turunan dari coal tar, yang merupakan campuran dari senyawa fenol, hidrokarbon polisiklik, dan heterosklik. Karena kelarutannya dalam air, tartrazin umum digunakan sebagai bahan pewarna minuman. Absorbansi maksimal senyawa ini dalam air jatuh pada panjang gelombang 427±2 nm.
Tartrazin merupakan bahan pewarna yang umum digunakan di Afrika, Swedia, dan Indonesia. Untuk menghasilkan warna lain, tartrazin dapat dicampurkan dengan E133 Biru Brilian Brilliant Blue FCF atau E142 Hijau Green S untuk menghasilkan sejumlah variasi warna hijau. Parlemen Eropa mengizinkan penggunaan senyawa ini di negara Uni Eropa dengan Surat Keputusan Konsul (Council Directive) 94/36/EC.
Produk yang mengandung tertrazin :
a. Makanan
Berikut adalah daftar makanan yang mungkin mengandung tartrazin. Ada tidaknya, sedikit banyaknya kandungan tartrazine tergantung pada kebijakan perusahaan manufaktur atau koki yang membuat makanan. Minuman ringan, puding, keripik, sereal, kue, sup, saus, es krim, permen, selai, jeli, mustard, acar, yogurt, mie, dan jus.

b. Produk media
Vitamin, antasida, kapsul dan obat-obatpreskripsi tertentu.
Tartrazin dapat menyebabkan sejumlah reaksi alergi dan intoleransi bagi orang-orang yang intoleransi terhadap aspirin atau penderita asma. Kasus ini cukup langka dan menurut dapat FDA, prevalensi intoleransi tartrazin di Amerika Serikat jatuh pada angka 0,12% (360 ribu dari 200 juta penduduk). Beberapa referensi lain menyebutkan bahwa penggunaan tartrazin dapat menyebabkan biduran (urtikaria) dengan prevalensi di bawah 0,01% atau 1 dari 10.000 penderita [4]. Jumlah ini cukup kecil bila dibandingkan dengan angka prevalensi penderita alergi terhadap udang, yaitu sebesar 0,6-2,8% (1 dari 50 orang). Gejala alergi tartrazine dapat timbul apabila senyawa ini terhirup (inhalasi) atau ditelan (ingesti). Reaksi alergi yang timbul berupa sesak nafas, pusing, migrain, depresi, pandangan kabur, dan sulit tidur (www.wikipedia.com). Selain itu, menurut The American Academyc of Pediastrics Committee on Drugs tartrazine dapat
menyebabkan gangguan kesehatan diantaranya tumor di kelenjar tiroid, Lymphocytic
lymphomas, dan kerusakan kromosomal (www.scribd.com).
3. Brilliant Blue
Brilliant Blue FCF atau yang biasa dikenal dengan FD&C blue no.1 adalah pewarna yang ditambahkan pada bahan pangan atau substansi lain yang dapat menyebabkan perubahan warna. Penampakannya berupa bubuk biru kemerah-merahan. Karakteristik dari pewarna ini adalah larut dalam air, dan dapat di ukur absorbansinya pada 630nm. Merupakan pewarna sintetik dari coal tar. Untuk membuat berbagai bayangan warna hijau,maka pewarna ini di kombinasikan dengan tartrazin(E102) (www.scribd.com)
Brilliant blue diproduksi menggunakan hidrokarbon aromatis dari petroleum. Pada umumnya merupakan garam disodium. Rumus kimianya C37H34N2Na2O9S3. Karena berwarna biru, Brilliant Blue FCF sering ditemukan dalam es krim, produk susu, manisan, dan minuman. Selain itu juga digunakan dalam pembuatan sabun, shampo, dan mouthwash dan aplikasi kosmetik lainnya. Pada ilmu tanah, Brilliant blue diaplikasikan pada penyelidikan jejak untuk memvisualisasikan infiltrasi dan distribusi air pada tanah.
Brilliant Blue FCF sebelumnya dilarang di Austria, Belgia, Denmark, Perancis, Jerman, Yunani, Italia, Norwegia, Spanyol, Swedia, dan Swiss akan tetapi telah dinyatakan sebagai sebuah bahan aditif makanan yang aman di Eropa dan sekarang sudah tidak dilarang pada kebanyakan negara. Brilliant blue mempunyai kemampuan mempengaruhi reaksi alergi pada individu seperti asma. Di Amerika Serikat produksinya melebihi 1 juta pound setiap tahunnya, dan konsumsi harian sekitar 16 mg per orang. Brilliant blue termasuk pewarna yang direkomendasikan oleh Hyperactive Children’s Support Group dan Feingold Association untuk dihilangi dari diet anak-anak. Akan tetapi setelah pengujian yang luas, Institut Kesehatan Nasional menyimpulkan bahwa warna tambahan tersebut tidak menyebabkan hiperaktifitas. (www.wikipedia.com)

4. Methanil Yellow
Metanil yellow merupakan pewarna golongan azo, dimana dalam strukturnya terdapat ikatan N=N (Gambar 2). Metanil yellow dengan warna kuning (Tabel 5) dibuat dari asam metanilat dan difenilamin (Nainggolan, dan Sihombing, 1984)
Sunset Yellow adalah zat pewarna dalam spektrofotometer yang berwarna kuning. Pewarna ini merupakan pewarna sintetik yang bersifat asam yang mengandung kelompok kromofor NN dan CC. Sunset Yellow dapat digunakan sebagai pewarna makanan, kosmetik dan medikasi. Nama kimia senyawa ini adalah disodium 2-hidroksi-1-(4-sulfonatofenilazo) naftalen-6-sulfonat dengan rumus kimia C16H10N2Na2O7S2. Senyawa ini memiliki berat molekul 452.37. Senyawa ini bersifat larut dalam air dan memiliki titik leleh >3000C.[1] Pewarna ini memiliki panjang gelombang maksimum pada 485 nm. Dalam fase solid, absorbansi pewarna ini adalah 487 nm. Sunset Yellow dapat ditemukan pada jeruk, marzipan, Swiss roll, selai aprikot, citrus marmalade, kurd lemon, pemanis, keju, minuman soda, dan lainnya (www.wikipedia.com).
Sunset yellow adalah bahan tambahan makanan yang dapat menyebabkan perubahan warna, pewarna ini disimbulkan dengan E 110.sunset yellow adalah jenis pewarna kuning sintetik yang biasa digunakan pada produk fermentasi yang telah mengalami proses pemanasan. pewarna ini biasa digunakan pada pembuatan sirup(orange squash),jelly orange,apricot jam,marmalade citrus,dan pada bahan-bahan pangan lain yang mengandung warna kuning,oranye dan kemerahan.
Sunset yellow dapat menyebabkan sejumlah reaksi alergi dan intoleransi bagi orang-orang yang intoleransi terhadapas pirinreaksi yang timbul antara lain adalah gangguan pencernaan, murus, muntah, dan kanker kulit. Ini adalah salah satu jenis pewarna yang dilarang oleh Perkumpulan anak-anak hiperaktif untuk dimasukkan dalam daftar diet anak-anak. Karena berdasarkan hasil riset oleh Food Standards Agency ditemukan bahwa ketika pencampuran antara bahan pewarna tersebut dengan bahan pengawet maka kecenderungan anak untuk hiperaktif meningkat.secara signifikan (www.scribd.com)
Nama lain Sunset Yellow : C.I. 15985; C.I. Food Yellow 3; C.I. Food Yellow 3, disodium salt; Food yellow No.5; Gelborange S; Fodd yellow No.5.
Titik lebur : 390℃ (dec.)
Kelarutan air : 5-10 g/100 mL at 24℃

Zat Warna Sintetis-bagian1

Menurut Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988, zat pewarna adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki atau memberi warna pada makanan (www.usu.com). Pewarna sintetik ditemukan oleh William Henry Perkin pada tahun 1856. Sejak itu, berbagai jenis pewarna sintetik berhasil disintesis (www.wikipedia.com). Pada tahun 1876 Witt menyatakan bahwa molekul zat warna merupakan gabungan dari zat organik yang tidak jenuh, kromofor sebagai pembawa warna dan auksokrom sebagai pengikat antara warna dengan serat. Secara lebih luas zat warna tersusun dari hidrokarbon tak jenuh,Chromogen, Auxocrome dan zat aditif (migration, levelling, wetting agent, dsb)

Zat organik tak jenuh umumnya berasal dari senyawa aromatik dan derivatifnya (benzene, toluene, xilena, naftalena, antrasena, dsb.), Fenol dan derivatifnya (fenol, orto/meta/para kresol, dsb.), senyawa (fenol, orto/meta/para kresol, dsb.), senyawa mengandung nitrogen (piridina, kinolina, korbazolum, dsb).
Chromogen adalah senyawa aromatik yang berisi Chromopores ( Yunani :chroma “warna”; phoros, “mengemban ”) yaitu gugus tak jenuh yang dapat menjalani transisi p®p dan n ® p (teori eksitasi transisi elektron). Khromofor merupakan zat pemberi warna yang berasal daari radikal kimia, seperti ; Kelompok nitroso : -NO, Kelompok nitro : -NO2, Kelompok azo : -N=N, Kelompok ethyline : >C=C<, Kelompok carbonyl : >C=O, Kelompok carbon – nitrogen : >C=NH dan –CH=N-, Kelompok belerang : >C=S dan ->C-S-S-C<. Macam – macam zat warna dapat diperoleh dari penggabungan radikal kimia tersebut dengan senyawa kimia lain. Sebagai contoh kuning jeruk (orange) diperoleh dari radikal ethylene yang bergabung dengan senyawa lain membentuk Hydrokarbon dimethyl fulvene. Auxochrome, (Yunani ; auxanein, “meningkatkan”) yaitu gugus yang tidak dapat menjalani transisi p ® pte ta p i dapat menjalani transisi elektron n. Auksokrom merupakan gugus yang dapat meningkatkan daya kerja khromofor sehingga optimal dalam pengikatan. Auksokrom terdiri dari golongan kation yaitu –NH2, -NH Me, – N Me2 seperti -NMe2Cl-, golongan anion yaitu SO3H-, -OH, -COOH, seperti –O-; -SO3-, dsb. Auxochrome juga merupakan radikal yang memudahkan terjadinya pelarutan: -COOH atau –SO3H. dapat juga berupa kelompok pembentuk garam: – NH2 atau –OH. Kebanyakan zat organik berwarna adalah hibrida resonansi dari dua struktur atau lebih. Penggolongan zar warna dapat dikatagorikan bermacam – macam menurut parameter yang dijadikan rujukan, sebagai contoh penggolongan zat warna berdasarkan cara diperolehnya, yaitu: Sebagai contoh penggolongan zat warna berdasarkan cara diperolehnya, yaitu: 1. Zat warna alam Zat warna yang berasal dari tumbuh – tumbuhan, misalnya; Nila (indigo) : warna biru, kulit batang jeruk : warna kuning, ketapang : warna coklat kehitaman, dan sebagainya. Zat warna dari binatang, misalnya; lendir kerang : warna merah, caro : merah tua, dan sebagainya. Zat warna dari mineral, misalnya; Fe : warna coklat, Mn : warna merah, Cr : warna hitam, dan sebagainya. 2. Zat warna buatan Suatu zat warna yang dibuat oleh manusia, baik semi sintetik maupun full sintetik, misalnya zat warna asam, basa, direct, naftol, dan sebagainya. Selain itu zat warna dapat digolongkan menurut sumber diperolehnya yaitu zat warna alam dan sintetik, Van Croft membaginya berdasarkan pemakainnya, misalnya : 1. Zat warna subtantif yaitu Warna yang langsung dapat mewarnai serat. 2.Zat warna reaktif yaitu warna yang memerlukan obat bantu pokok supaya dapat mewarnai serat. Hennek membagi zat warna menjadi dua bagian menurut warna yang ditimbulkannya yaitu : 1. Zat warna monogenetik, apabila memberikan hanya satu warna. 2. Zat warna Poligenetik, apabila memberikan beberapa jenis warna Tetapi penggolongan yang umum adalah berdasarkan konstitusinya yaitu “Color Index” atau berdasarkan bentuk kimia zat warna. Penggolongan lain yang penting pula terutama bagi pencelupan adalah pembagian menurut cara pemakaiannya. Zat warna juga diperoleh dari senyawa anorganik dan dari mineral alam. Zat warna yang diperoleh dari senyawa anorganik dan dari mineral alam sering disebut dengan pigment(tahun 1935 mulai dikenal pigmen yang mempunyai kromofor). Beberapa contoh warna pigment yang berasal dari senyawa anorganik dan mineral alam adalah sebagai berikut : • Warna putih : Titanium dioksida, Seng oksida, Seng sulfit, Timbal sulfide. • Warna merah : Besi oksida, Kadmium merah, Timbal merah, Toners & lak. • Warna hitam : Graphite, Carbon black, Lengas : Graphite, Carbon black, Lengas lampu, Magnetite black. • Warna biru : Ultramine, Cobalt biru, Besi biru, Tembaga Pthalocyanine. • Warna kuning : Seng kromat, Ferit kuning, Kadmium liyhopone, Ocher. • Warna metalik : Aluminium, Debu seng, Serbuk Tembaga. Sedangkan pigmen dari senyawa organik misalnya ftalosianina, monoazo, diazo, antrakuinon, tioindigo, dan sebagainya.
BAHAN PEWARNA SINTETIK
Bahan pewarna makanan terdiri dari dua jenis yaitu yang alami dan sintetik berikut disamping hanya yang sintetik saja. Bahan pewarna sintetik yang telah dihasilkan para ahli kimia berasal dari Coal Tar, yang jumlahnya ratusan. Pewarna sintetik yang juga disebut pewarna buatan, banyak disenangi oleh industri pangan maupun non pangan (tekstil, kulit dan kertas).

Zat Aditif Pewarna Makanan
Zat aditif makanan di definisikan sebagai bahan yang ditambahkan dan dicampurkan sewaktu pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu. Disini zat aditif makanan sudah termasuk : pewarna, penyedap, pengawet, pemantap, antioksidan, pengemulsi, pengumpal, pemucat, pengental, dan anti gumpal.
Bila dilihat dari sumbernya, zat aditif dapat berasal dari sumber alamiah seperti lesitin, asam sitrat, dan lain-lain, dapat juga disintesis dari bahan kimia yang mempunyai sifat serupa dengan bahan alamiah yang sejenis, baik susunan kimia, maupun sifat bahan alamiah yang sejenis, baik susunan kimia, maupun sifat metabolismenya seperti karoten, asam askorbat, dan lain-lain. Pada umumnya bahan sintetis mempunyai kelebihan, yaitu lebih pekat, lebih stabil, dan lebih murah. Walaupun demikian ada kelemahannya yaitu sering terjadi ketidaksempurnaan proses sehingga terjadi ketidaksempurnaan proses sehingga mengandung zat-zat berbahaya bagi kesehatan, dan kadang-kadang bersifat karsinogen yang dapat merangsang terjadinya kanker pada hewan dan manusia.
Bahan pewarna makanan terbagi dalam dua kelompok besar yakni pewarna alami dan pewarna buatan. Di Indonesia, penggunaan zat pewarna untuk makanan (baik yang diizinkan maupun dilarang) diatur dalam SK Menteri Kesehatan RI No. 235/MenKes/Per/VI/79 dan direvisi melalui SK Menteri Kesehatan RI No. 722/MenKes/Per/VI/88 mengenai bahan tambahan makanan. Pewarna alami diperoleh dari tanaman ataupun hewan yang berupa pigmen. Beberapa pigmen alami yang banyak terdapat di sekitar kita antara lain: Klorofil (terdapat pada daun-daun berwarna hijau), Karotenoid (terdapat pada wortel dan sayuran lain berwarna oranye-merah). Umumnya, pigmen-pigmen ini bersifat tidak cukup stabil terhadap panas, cahaya, dan pH tertentu. Walau begitu, pewarna alami umumnya aman dan tidak menimbulkan efek samping bagi tubuh.
Pewarna buatan untuk makanan diperoleh melalui proses sintesis kimia buatan yang mengandalkan bahan-bahan kimia, atau dari bahan yang mengandung pewarna alami melalui ekstraksi secara kimiawi. Beberapa contoh pewarna buatan yaitu :
• Warna kuning : tartrazin, sunset yellow
• Warna merah : allura, eritrosin, amaranth.
• Warna biru : biru berlian
Kelebihan pewarna buatan dibanding pewarna alami adalah dapat menghasilkan warna yang lebih kuat dan stabil meski jumlah pewarna yang digunakan hanya sedikit. Warna yang dihasilkan dari pewarna buatan akan tetap cerah meskipun sudah mengalami proses pengolahan dan pemanasan, sedangkan pewarna alami mudah mengalami degradasi atau pemudaran pada saat diolah dan disimpan. Misalnya kerupuk yang menggunakan pewarna alami, maka warna tersebut akan segera pudar ketika mengalami proses penggorengan.
Bahan perwarna dapat membahayakan kesehatan bila pewarna buatan ditambahkan dalam jumlah berlebih pada makanan, atau dalam jumlah kecil namun dikonsumsi secara terus-menerus dalam jangka waktu lama. Perlu diperhatikan bahwa pada saat ini banyak pengusaha nakal yang menggunakan zat-zat pewarna berbahaya yaitu zat pewarna bukan untuk makanan (non food grade). Misalnya, pemakaian zat pewarna tekstil atau kulit. Selain itu, terjadi juga penggunaan bahan pewarna buatan dengan dosis tidak tepat. Hal- hal tersebutlah yang dapat membahayakan kesehatan tubuh.
Cara menghindari penggunaan zat warna buatan dalam produk makanan :
1. Setiap kali membeli produk makanan, baca jenis dan jumlah pewarna yang digunakan dalam produk tersebut.
2. Perhatikan label pada setiap kemasan produk. Pastikan di label itu tercantum izin dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) yang tertulis: “POM dan Nomor izin pendaftaran”. Atau jika produk tersebut hasil industri rumah tangga maka harus ada nomor pendaftarannya yang tertulis : “ P-IRT dan nomor izin pendaftaran”.
3. Untuk produk makanan yang tidak dikemas secara khusus, sebaiknya pilih makanan atau minuman yang warnanya tidak terlalu mencolok, karena kemungkinan warna tersebut berasal dari bahan pewarna bukan makanan (non food grade) seperti pewarna tekstil.
Berikut ini beberapa alasan utama menambahkan zat pewarna pada makanan (Syah et al. 2005) :
1. Untuk memberi kesan menarik bagi konsumen.
2. Menyeragamkan warna makanan dan membuat identitas produk pangan.
3. Untuk menstabilkan warna atau untuk memperbaiki variasi alami warna. Dalam hal ini penambahan warna bertujuan untuk untuk menutupi kualitas yang rendah dari suatu produk sebenarnya tidak dapat diterima apalagi bila menggunakan zat pewarna yang berbahaya.
4. Untuk menutupi perubahan warna akibat paparan cahaya, udara atau temperatur yang ekstrim akibat proses pengolahan dan selama penyimpanan.
5. Untuk menjaga rasa dan vitamin yang mungkin akan terpengaruh sinar matahari selama produk disimpan.
Uji bahan pewarna makanan :
Test yang harus dijalankan meliputi pengujian kimia, biokimia toksikalogi dan analisis terhadap media tersebut. Bila lolos uji zat pewarna tersebut baru dapat digunakan penggunaannya dalam makanan. Zat pewarna kemudian disebut Permitted Color atau Certified Color atau Food Grade Colouring Agent.
Proses pembuatan zat warna sintetik biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat dan asam nitrat yang sering kali terkontaminasi oleh logam berat seperti arsen, atau logam berat lain yang bersifat racun. Pada pembuatan zat pewarna organik sebelum mencapai produk akhir harus melalui suatu senyawa antara dulu, yang kadang-kadang berbahaya. Sering kali dalam proses reaksi tersebut terbentuk senyawa baru yang berbahaya yang lebih tertinggal sebagai residu dalam bahan pewarna tersebut.
Setelah lolos berbagai uji dan tes tersebut, zat pewarna yang dianggap aman, ditetapkan bahwa kandungan logam arsen tidak boleh lebih dari 0,00014% dan timbal tidak boleh lebih dari 0,001% sedangkan logam berat lainnya tidak boleh ada.
Di Perdagangan Internasional, informasi detail mengenai zat warna Food Grade dapat dilihat pada dokumen Codex Alimentarius Commission (kunjungi situs CAC : http://www.codexalimemtarius.net) dan di Indonesia peraturan mengenai penggunaan zat pewarna yang diijinkan dan dilarang dalam makanan diatur melalui SK Menteri Kesehatan RI No. 235 Menkes/Per/VI/79 dan yang telah direvisi melalui SK Menteri Kesehatan RI No. 722 Menkes/Per/IXI/80 mengenai Bahan Tambahan Makanan (www.scribd.com)

Pembuatan Metil Klorida dari Metanol dan Asam Klorida-BAB II

DESKRIPSI PROSES
2.1. Spesifikasi Bahan Baku dan Produk

2.1.1. Spesifikasi Bahan Baku Utama
a. Metanol
Fase (25 oC, 1atm) : cair
Warna : tak berwarna
Densitas (25 oC) : 0,787 g/cm3
Viskositas (25 oC) : 0,541 cp
Impuritas : H2O 2% berat
Kemurnian : CH3OH 98% berat
(www.medcoenergi.com)
b. Asam klorida
Fase : cair (pada 30 oC, 52,05 atm)
Warna : jernih kekuningan
Densitas : 1,045 g/cm3 (pada 120 oC)
Kemurnian : HCl min 99% berat
Impuritas : H2O max 1% berat
(www.behnmeyer.com)


2.1.2. Spesifikasi bahan pembantu
a. Katalis Alumina gel
Bentuk : padat spheris
Warna : putih
Ukuran : 1,68-2,38 mm
Bulk density : 0,85-0,92 g/ml
Porositas : 58,4-58,9

2.1.3. Spesifikasi Produk Utama
a. Metil klorida
Fase : cair (pada 30oC, 6,5 atm)
Warna : tak berwarna
Densitas : 0,925-0,956 g/cm3 (pada 25oC)
Kemurnian : CH3Cl min 99,5% berat
Impuritas : H2O max 50 ppm
CH3OH max 30 ppm
(www.celanise.com)



2.2. Konsep Proses
2.2.1. Dasar Reaksi
Proses pembuatan metil klorida dari metanol dan asam klorida dengan katalisator alumina (Al2O3) dilakukan melalui hidroklorinasi dengan reaksi sebagai berikut:
CH3OH(g) + HCl(g) katalis CH3Cl(g) + H2O(g) metanol asam klorida metil klorida air
Reaksi hidroklorinasi metanol dengan asam klorida merupakan reaksi orde 2 (www.wikipedia.com).
2.2.2. Mekanisme Reaksi
Reaksi katalitis dengan zat reaktan metanol dan HCl berbentuk gas dan katalisator Al2O3 berbentuk padatan berlangsung menurut mekanisme sebagai berikut:
1. a. Difusi gas reaktan dari fase gas ke permukaan luar katalis.
b. Difusi reaktan dari permukaan luar katalis melewati pori-pori ke permukaan pori katalis (difusi molekuler).
2. Adsorpsi reaktan pada permukaan dalam katalis.
3. Reaksi CH3OH(g) + HCl(g) katalis CH3Cl(g) +H2O(g)
metanol asam klorida metil klorida air
4. Desorpsi hasil reaksi dari permukaan dalam katalis.
5. a. Difusivitas gas hasil reaksi dari permukaan dalam katalis ke permukaan luar katalis.
b. Difusi gas hasil reaksi dari permukaan luar (interface) ke fase gas.
(Fogler, 1999)
Pada mekanisme reaksi katalitis diatas tahap difusi dasn adsorpsi berlangsung cepat, sedangkan reaksi pada permukaan katalis berlangsung paling lambat. Sehingga kecepatan reaksi pada permukaan katalitis secara keseluruhan dikontrol oleh reaksi permukaan.
Mekanisme reaksinya sebagai berikut :
CH3OH(g) + HCl(g)-----> H2O(g) + CH3Cl(g)
Mekanisme Reaksi :
A + S -----> AS (Adsorpsi Metanol)
B + S -----> BS (Adsorpsi HCl)
AS + BS -----> DS + S (Reaksi di Permukaan katalis)
DS -----> D + S (Desorpsi Metil Klorida)
Kondisi Operasi
Unit proses digunakan reaktor fixed-bed. Stokiometri dari metanol dan HCl diuapkan dan dipanaskan terlebih dahulu pada suhu 200oC, kemudian diumpankan ke reaktor dimana panas reaksi eksotermis menaikkan temperatur ke range 300-380oC. Katalis yang digunakan adalah alumina gel atau γ alumina (8-12 mesh) yang dibantu oleh CuCl2 atau ZnCl2 dan silika alumina dalam reaktor pipa gas dengan batas temperature 3000C-3900C dari 2 katalis γ alumina hamper mendekati konversi equilibrium dalam kondisi kesetimbangan. Recovery produk diselesaikan dengan penggosokan oleh air dan kondensasi metal klorida dengan pendinginan (boiling point) pada tekanan 1 bar adalah -23,7 C (Rase).
Tinjauan Termodinamika
Tabel 2.1 Data Panas Pembentukan dan Energi Gibbs
Komponen ∆Hf°(J/gmol) ∆Gf°(J/gmol)
CH3OH -201.170 -165.510
HCl -92.300 -95.300
CH3Cl -86.320 -62.890
H2O -241.800 -228.600
(Yaws, 1999)
Reaksi:
CH3OH(g) + HCl(g)--------> CH3Cl(g) + H2O(g)
∆G° = ∆Gf°produk - ∆Gf°reaktan
= ( ∆Gf° CH3Cl + ∆Gf° H2O) – (∆Gf° CH3OH + ∆Gf° HCl)
= (-62.890 + (-228.600) ) – (-165.510 + (-95.300) )
= -33.680 J/mol
∆Hf° = ∆Hf°produk - ∆Hf°reaktan
= (∆Hf°CH3Cl + ∆Hf°H2O) – (∆Hf°CH3OH + ∆Hf°HCl)
= (-86.320 + (-241.800) ) – (-201.170+ (-92.300) )
= -34.650 J/mol
Reaksi pembuatan metal klorida adalah reaksi eksotermis, selama reaksi dibebaskan panas. Hal ini ditunjukkan oleh harga entalpi yang negative, yaitu sebesar -34.650 J/mol.
Untuk mengetahui apakah reaksi berlangsung secara irreversible dapat dilihat dari harga K (konstanta kesetimbangan reaksi). Data ∆Gf°298 untuk komponen yang terlibat dalam tersebut adalah :
K298 = ℮ -∆G°/RT
K298 = ℮ -(-33.680/8,314x298)
= 8,013 x 105
Ln K/Ko = ∆H/R ( 1/T - 1/298 )
Suhu reaksi rata-rata adalah 598 K. Harga K pada suhu 598K adalah :
K = K298 exp ( ∆H/R ( 1/T - 1/298 ) )
K = 8,013 x 105 exp ( -34.650/8,314 ( 1/573 - 1/298 ) )
= 6,9.108
(Levenspiel, 1999)
Harga konstanta kesetimbangan reaksi (K) termasuk besar sehingga reaksi bias dianggap berjalan secara irreversible.
Tinjauan Kinetika
Reaksi hidroklorinasi metanol termasuk reaksi orde dua. Dari segi kinetika, kecepatan reaksi hidroklorinasi metanol akan bertambah cepat dengan naiknya temperatur. Berdasarkan persamaan Arhenius:
K=A.e^-E/RT
Dimana:
K = konstanta kecepatan reaksi
A = faktor frekuensi tumbukan
E = energi aktivasi
R = konstanta gas ( 1,987 kal/mol K)
T = temperatur operasi (K)
Harga konstanta reaksi dalah sebagai berikut:
Reaksi:
CH3OH(g) + HCl(g) --------> CH3Cl(g) + H2O(g)
Konsatanta kecepatan reaksi:
K=2,091 x 1019 exp(-42885,1859/RT) m3 /jam.kgmol(www.nist.gov)

Pemakaian katalis
Dalam reaksi gas-gas, meskipun katalis tidak berubah pada akhir reaksi, tetapi katalis tetap ikut aktif dalam reaksi. Katalis dapat memperbesar kecepatan reaksi karena dimungkinkan terjadinya mekanisme alternatif dimana energi aktivasi tiap langkah reaksi akan lebih rendah dibandingkan tanpa katalis. Konversi kesetimbangan tidak dipengaruhi katalis, tetapi selektivitas dapat ditingkatkan dengan adanya katalis. Umumnya penurunan tekanan akan semakin besar bila diameter katalis semakin kecil. Permukaan yang luas lebih baik karena laju reaksi setara dengan luas permukaan yang ditempati, yaitu dengan adanya struktur porous, padatan terdiri dari banyak pori. Luas permukaan yang besar disebabkan karena adanya pori (situs aktif) ini sehingga menaikkan kecepatan reaksi dan meyebabkan berkurangnya aktivitas sehingga kecepatan reaksi bertambah besar.
Pada reaksi hidroklorinasi metanol menjadi metil klorida, katalis yang digunakan adalah Al2O3 yang merupakan katalis padat berpori dengan diameter 1,68-2,38 mm.Katalis ditempatkan di dalam reaktor fixed bed di dalam sisi tubenya, sedangkan umur dari katalis Al2O3 adalah 3-5 tahun (Kirk Othmer, 1993).
2.3.1. Langkah Proses
Unit Penyiapan Bahan Baku
HCl disimpan dalam tangki, lalu dipompa ke expander dan diturunkan tekanannya. Lalu ditambah HCl untuk dipanaskan. Metanol disimpan, dipompa dan dikompresi tekanannya ke vaporizer untuk diuapkan, kemudian dialirkan ke separator dan dipisahkan antara uap dan cair. Uap keluar dari separator, kemudian ke heater untuk dipanaskan. Setelah itu diumpankan ke reaktor.
Unit Proses
Perbandingan equimolar dari metanol fase gas (arus 1) dan asam klorida (arus 2) diumpankan ke reaktor hidroklorinasi yang diperlihara pada suhu sekitar 350oC. Hidroklorinasi reaksi dikatalis oleh salah satu jenis katalis termasuk alumina gel, cupro atau zink klorida pada karbon teraktivasi atau batu apung, atau asam fosfor pada karbon teraktivasi. Konversi metanol 95%. Gas keluar reaktor ditransfer ke quench tower dimana asam klorida dan metanol yang tidak bereaksi dihilangkan dengan penggosokan oleh air. Air dibuang dari quench tower (arus 4) dilepaskan dari hampir semua metil klorida terlarut dan metanol, dimana keduanya direcycle ke reaktor hidroklorinasi (arus 5). Cairan keluaran dari stripper (arus 6) terdiri dari asam hydrochloric acid encer yang dikirim ke unit pengolahan limbah. Gas metil klorida dari quench tower (arus 7) diumpankan ke drying tower, dimana akan dikontakkan dengan asam sulfat pekat untuk menghilangkan sisa air. Pembuangan asam sulfat encer dapat dijual atau diproses kembali. Bagian dari metil klorida kering (arus 9) dikompresi, didinginkan, dan dicairkan sebagai produk. Sisanya (arus 10) diumpankan ke reaktor klorinasi dengan gas klorin (arus 11). Metil klorida dan klorin bereaksi untuk membentuk metilen klorida dan kloroform, bersama dengan asam klorida dan sedikit karbon tetraklorida. Arus produk dari reaktor klorinasi di kondensasikan kemudian dilepaskan asam klorida. Asam klorida direcycle ke reaktor hidroklorinasi metanol (arus 12). Campuran kasar dari metilen klorida, kloroform, dan karbon tetraklorida dari stripper (arus 13) ditransfer ke tangki penyimpanan dan kemudian diumpankan ke kolom destilasi untuk mengekstrak metilen klorida. Bagian bawah dari kolom (arus 15) didestilasi untuk mengekstrak klorofotm. Arus produk kloroform dan metilen klorida (arus 14 dan 16) diumpankan ke day tank dimana ditambahkan penghambat lalu dikirim ke penyimpanan dan fasilitas pemuatan. Bagian bawah dari destilasi kloroform (arus 17) terdiri dari karbon tetraklorida kasar yang disimpan untuk kemudian dijual atau ditransfer ke pemisahan karbon tetraklorida atau proses perkloroetilen (www.epa.gov).


DAFTAR PUSTAKA

Fogler, H.S, 1999, Elements of Chemical Reaction Engineering, 3rd edition, Prentice Hall P.T.R, New Jersey
Kirk, R.E. & Othmer, D.F., 1993, Encyclopedia of Chemical Technology, Vol V, 3rd edition, A Wiley Interscience Publisher Inc, New York
Perry, R.H. and Green, D, 1984, Perry’s Chemical Engineers Handbook, 3rd edition, Mc Graw Hill Book Co. New York
Rase, Howard F, 2000, Handbook of Commercial Catalysts: Heterogeneous Catalysts, CRC Press
Levenspiel, O., 1972, Chemical Reaction Engineering, 2nd edition, John Willey and Sons Inc, Singapore
Mc. Ketta, J.J. and Chuningham, P.F., 1972, Encyclopedia of Chemical Processing and Design, Marcel Dekker Inc, New York
Mc Ketta, J.J.,1993, Chemical Processing Handbook, CRC Press.
Vogel, A.I. and Jeffery, G.H., 1989, Vogel's Textbook of Quantitative Chemical Analysis, Longman Scientific & Technical.
Weissermel, Klaus and Arpe, Hans Jurgen, 2003, Industrial Organic Chemistry, Wiley VCH.
Yaws, C.L., 1999, Chemical Properties Handbook, Mc Graw Hill Company, New York

www.behmeyer.com
www.cdc.gov
www.celanise.com
www.chemicalland21.com
www.epa.gov
www.freepatentonline.com
www.inchem.org
www.indonetwork.co.id
www.medcoenergi.com
www.OxyChem.com
www.patentstorm.us
www.wikipedia.com

Pembuatan Metil Klorida dari Metanol dan Asam Klorida-BAB I

1.1. Latar Belakang
Metil klorida merupakan senyawa klorometana selain metilen klorida dan karbon tetraklorida. Senyawa metil klorida dapat diproduksi dengan proses hidroklorinasi fase gas metanol, sehingga bahan baku utama metil klorida adalah metanol dan asam klorida. Metanol dan asam klorida, keduanya adalah reaktan berharga murah. Oleh karena itu akan lebih menguntungkan jika dijadikan bahan baku untuk membuat metil klorida, karena metil klorida adalah pelarut yang harganya lebih mahal. Penggunaan proses hidroklorinasi dari metanol akan lebih menguntungkan jika produk yang diinginkan hanya metil klorida dan dengan kapasitas pabrik yang kecil (Mc Ketta).

92% metil klorida yang dihasilkan di Amerika Serikat digunakan sebagai feedstock dalam pembuatan bahan lanjutan metil klorosilane. Metil klorosilane digunakan dalam produksi fluida silikon, elastomer, dan resin. Namun paling besar digunakan sebagai fluida silikon, dimana digunakan dalam tingkatan yang luas dari produk termasuk proses pembantu seperti agen antifoaming, agen pelepasan, dan pelumas ringan. Metil klorida juga digunakan dalam bidang kimia untuk produk konsumsi seperti kosmetik, auto polishes, pelitur furniture, dan lapisan kertas (www.OxyChem.com). Pembuatan tertramethyl lead dan tripatane (2,2,3,-trimethylbutane) sebagai bahan tambahan anti ketukan untuk bensin, adalah penggunaan paling luas dari metil klorida (www.cdc.gov). Metil klorida juga digunakan dalam sintesis berbagai senyawa, dan sebagai pengekstraks untuk lemak, minyak, dan resin. Metil klorida juga telah digunakan sebagai bahan pembakar dalam aerosol dan pembuatan obat (drugs) terlarang (www.inchem.org).
Dalam pembuatan metil klorida diperlukan ketelitian karena kondisi reaksi tidak menyukai kompetisi reaksi untuk 2 molekul metanol yang bergabung untuk membentuk dimetil eter. Akan tetapi reaksi utama pembentukan metil klorida tetap dominan karena dimetil eter yang terbentuk sangat sedikit (Rase).

1.2. Tinjauan Pustaka
1.2.1. Macam-macam Proses
Macam-macam proses pembuatan metil klorida secara komersial yang dikembangkan dewasa ini adalah :
1. Klorinansi metana
Menurut Mc Ketta (1972), secara umum metil klorida dengan metode klorinasi metana dapat dibuat dengan beberapa cara, antara lain :
1. Proses thermal chlorination
2. Proses photochlorination
3. Proses klorinasi metana dengan katalis alumina
Pada proses klorinasi metana, metil klorida bukan merupakan produk tunggal, karena terbentuk produk lain seperti karbon tetraklorida dan kloroform.
Pada klorinasi metana digunakan klorin dan metana sebagai bahan baku, dengan reaksi berjalan eksotermis.
Reaksi :
CH4 + Cl2 --------> CH3Cl + HCl
CH3Cl + 2Cl2 --------> CH2Cl + HCl
CH2Cl2 + Cl2 --------> CHCl3 + HCl
2CH3Cl2 + 3Cl2 --------> 2CCl4 + HCl
Proses klorinasi metana menghendaki kemurnian metana tinggi, sehingga diperlukan alat cryogenic destilasi untuk treatment gas alam, yang investasi peralatan ini cukup mahal, yield proses klorinasi metana 80-85% (Kirk Othmer, Vol5, 1993).
2. Hidroklorinasi metanol
Dari Weissermel, pembuatan metil klorida dengan metode hidroklorinasi metanol dapat dibuat dengan dua cara :
1. Pembuatan metil klorida dari metanol dan asam klorida pada fase gas.
CH3OH + HCl-------->CH3Cl + HCl
Reaksi ini dilakukan pada suhu 100-150oC dengan kelebihan tekanan yang tipis baik tanpa katalis maupun dengan katalis homogen seperti ZnCl2 atau FeCl3.
2. Pembuatan metil klorida dari metanol dan asam klorida pada fase cair.
CH3OH + HCl-------->CH3Cl + HCl
Reaksi ini dilakukan pada suhu 300-380oC dan pada tekanan 3-6 bar dengan katalis heterogen seperti ZnCl2, CuCl2, H3PO4 dengan bantuan SiO2, atau dengan Al2O3 pada fixed atau fluidized bed.
Dari www.freepatentonline.com, reaksi berlangsung pada fase gas dan menggunakan katalis dalam bentuk padat atau cair. Kondisi reaksi harus dijaga, karena dapat membentuk dimetil eter. Reaksi :
CH3OH-------->CH3OCH3 + H2O
Metanol-------->dimetil eter air

1.2.2. Pemilihan Proses
Dari kedua proses yang ada dipilih proses hidroklorinasi metanol dengan pertimbangan :
a. Produk yang diinginkan hanya metil klorida, sedangkan klorinasi metana selain metil klorida juga menghasilkan produk lain seperti metilen klorida, kloroform, dan karbon tetraklorida (Othmer,1993). Pada hidroklorinasi metanol, selain produk metil klorida, juga dihasilkan produk samping dalam jumlah sangat sedikit yaitu dimetil eter. Akan tetapi dimetil eter dapat direduksi dengan melakukan proses paling tidak pada dua reaktor operasi dengan memasukkan seluruh umpan asam klorida yang dibutuhkan ke dalam reaktor pertama sementara memisahkan pemasukan umpan metanol terutama sebagai uap, diantara reaktor (www. patentstorm.us).
b. Yield pada proses hidroklorinasi metanol dapat mencapai 95% sedangkan proses klorinasi metana sebesar 80-85% (Kirk Othmer,1993).
c. Pada proses klorinasi metana, metana sebagai bahan baku harus memiliki kemurnian tinggi sehingga diperlukan biaya yang mahal (Mc Ketta).
1.2.3. Kegunaan Produk
Penggunaan metil klorida dewasa ini adalah untuk antara lain untuk :
a. Bahan baku untuk pembuatan silikon.
b. Bahan baku untuk pembuatan kosmetik, produk rumah tangga, dan makanan.
c. Komponen penting dalam butyl rubber.
d. Bahan baku untuk memproduksi cationic polymer yang digunakan sebagai flokulan dalam pengolahan air
1.2.4. Sifat Fisis dan Kimia Bahan dan Produk
1.2.4.1. Sifat Fisis dan Kimia Bahan Baku Utama

a. Metanol (CH3OH)
Sifat-sifat fisis
Berat molekul, gram/mol : 32,042
Titik didih (1atm), oC : 64,7
Suhu kritis,oC : 239,43
Tekanan kritis, kPa : 8096
∆Hf (liquid) pada 25oC, J/mol : -201.170
∆Gf(liquid) oada 25oC, J/mol : -162.620
Densitas pada 25oC, g/ml : 0,787
Kapasitas panas cair, J/mol oK
Cp = 40,125 + 3,1046E-01T+(-1,0291E-03)T2+1,4598E-06T3
Kapasitas panas gas, J/mol oK
Cp = 40,046+(3,8287E-02)T+(-2,4529E-04)T2+(-2,1679E-07)T3+(5,9909E-11)T4
( Yaws, 1999 )
Sifat-sifat kimia
a. Pembuatan eter
Dimetil eter terbentuk dengan dehidrasi metanol dengan katalis alumina pada suhu 300oC.
2CH3OH + RCOOH --------> CH3OCH3 + H2O
b. Reaksi dengan asam klorida
Metanol dapat bereaksi dengan asam klorida melalui reaksi hidroklorinasi secara substitusi :
CH3OH + HCl --------> CH3Cl + H2O
c. Dekomposisi
Metanol dapat terdekomposisi menjadi CO dan H2
CH3OH --------> CO + H2
d. Dehidrogenasi dan oksidasi parsial
Reaksi secara komersial dari metanol adalah dehidrogenasi dan oksidasi menjadi formaldehid. Reaksi bisa dijalankan menggunakan katalis dengan adanya udara :
CH3OH --------> HCHO + H2
2CH3OH + O2 --------> HCCHO + 3H2O
( Kirk Othmer, 1993 )
b. Asam Klorida ( HCl )
Sifat-sifat fisis
Berat molekul, g/mol : 36,5
Titik didih ( 1 atm), oC : -83,0314
Suhu kritis, oC : 51,55
Tekanan kritis, atm : 82,5
ΔHf (liquid) pada 25oC, J/mol : -92.300
ΔGf (liquid) pada 25oC, J/mol : -95.30
Densitas pada 25oC, g/ml : 1,268
Viskositas, 20oC, cp : 0,0156
( Yaws, 1999 )
Sifat-sifat kimia
a. Reaksi dengan oksida logam
Fe2O3 bereaksi pada suhu temperatur 300 C menghasilkan FeCl2 dan H2O.
b. Reaksi dengan zat pengoksidasi
HCl dan O2 bereaksi dalam fasa gas menghasilkan klorin.
HCl + O2 --------> 2Cl2 + 3 H2O
c. Reaksi substitusi dan hidroksil alifatik dengan asam klorida
ROH +HCl --------> RCl + H2O
Untuk alkil yang lebih tinggi, katalis ZnCl digunakan untuk kontak reaksi dalam fasa cair. Untuk alkohol rendah seperti metanol dapat direaksikan dengan HCl melalui reaksi hidroklorinasi menggunakan katalis padat.

(Perry, 1996 )
1.2.4.2. Sifat Fisis dan Kimia Bahan Pembantu
Katalis Alumina gel
- Bentuk : padat spheris
- Warna : putih
- Ukuran : 1,68-2,38 mm
- Bulk density : 0,85-0,92 g/ml
- Porositas : 58,4-58,9
(www.indonetwork.co.id)
1.2.4.3. Sifat Fisis dan Kimia Produk
a. Metil Klorida (CH3Cl)
Sifat-sifat Fisis
Berat molekul, g/mol : 50,53
Titik didih ( 1 atm), C : -25,73
Suhu kritis, C : 143
Tekanan kritis, atm : 65,9
ΔHf (liquid) pada 25 C, J/mol : -86.320
ΔGf (liquid) pada 25 C, J/mol : -62.890
Viskositas, 20 C, cp : 0,244
( Yaws, 1999 )
Sifat-sifat Kimia
a. Metil klorida mempunyai kemampuan metilasi melalui reaksi Friedel Crafis, Grignard reagent dan Wurtz synthesis.
CH3Cl + C6H6 --------> C6H5 + HCl (Crafis)
CH3Cl + Mg --------> CH3MgCl (Grignard)
2CH3Cl + 2Na --------> CH6 + 2NaCl
(Wurtz)
b. Metil klorida akan bereaksi kuat dengan Al menghasilkan metal alumina klorida yang digunakan sebagai katalis untuk polimerisasi dan hidrogenasi dari hidrokarbon.
3CH3Cl + Al -------->(CH3)3AlCl3
c. Silikon bereaksi dengan metal klorida dengan adanya Cu akan menghasilkan dimetil klorida silane.
2CH3Cl + Si-------->(CH3)2SiCl2
Reaksi ini adalah tahap intermediet dalam penyediaan silikon.
d. Tetramethyl lead digunakan sebagai bahan pencampur bensin, dibuat dengan mereaksikan metil klorida dengan campuran Pb monosodium sebagai katalis digunakan AlCl3.
4CH3Cl + 4NaPb-------->(CH3)4Pb + 4NaCl + 3Pb
e. Metil klorida akan bereaksi dengan amina tersier membentuk quartenary ammonium klorida. Senyawa ini sangat penting dalam produksi detergen, fungisida, dan desinfektan.
(Kirk Othmer, Vol 5, 1993)
b. Air (H2O)
Sifat-sifat fisis
Berat molekul, g/mol : 18
Titik didih : 100
Suhu Kritis : 647,13
Tekanan kritis : 220,5
∆Hf (liquid) pada 25oC, J/mol : -241.800
∆Gf (liquid) pada 25oC, J/mol : -228.600
Densitas pada 25oC : 1
Kapasitas panas cair, J/mol.K :
Cp=92,053+(-3,9953E-02)T+(-2,1103E-04)T2+(5,3469E-07)T3
Kapasitas panas gas(J/mol.K) :
Cp=33,933+(-8,4186E-03)T+2,9906E-05T2+(-1,7825E-08)T3+3,6934E-12T4
Sifat-sifat kimia
a. Dibentuk melalui reaksi: H+ + OH- → H2O
b. Mampu menghidrolisis ester menjadi senyawa-senyawa pembentuknya:
2RCOOR + H2O-------->RCOOH + ROH
c. Mudah melarutkan zat-zat,baik cair,padat maupun gas.
(Vogel, 1985)

1.2.5. Tinjauan Proses Secara Umum
Proses hidroklorinasi adalah suatu proses dengan atom halogen yang berasal dari asam klorida bergabung dengan suatu senyawa organik.Proses hidroklorinasi meliputi:
1. Reaksi adisi
2. Reaksi substitusi
Senyawa yang dapat dibuat pada proses hidroklorinasi dengan reaksi adisi adalah kloroolefin dan diolefin.Pembuatan kloroolefin dalam hal ini adalah vinil klorida dengan bahan bakunya adalah gas asetilen dan HCl.
HC Ξ CH + HCl → H2C = CHCl
Proses hidroklorinasi dengan reaksi substitusi terjadi pada pembuatan metal klorida
CH3OH + HCl → CH3Cl + H2O
metanol asam klorida metal klorida air
Pada reaksi ini ion hidroksil digantikan oleh ion klorin dari asam klorida. Pada proses hidroklorinasi ini, tidak hanya penambahan klorida saja yang spesifik tapi juga katalisnya. Kebanyakan katalis yang digunakan adalah pembawa halogen seperti Pb, Sb, dan P dengan valensi dua,namun sebagai katalis kurang stabil jika dibandingkan dengan valensi yang lebih tinggi. Karbon aktif, clay dan alumina dapat digunakan sebagai katalis pada proses ini (Kirk Othmer, Vol 5, 1993).

Media Pemanas dan Pendingin-bagian V

Paratherm NF
- Paratherm NF-grade makanan, fluida transfer panas yang berdasarkan mineral-oil dan didesain untuk memperluas layanan bebas masalah dalam sistem liquid fase dengan loop tertutup sampai 600oF dalam heater berbahan bakar fuel dan 630oF dalam heater imersi elektrik.
- Paratherm NF sangat efisien, stabil secara thermal dan efektif dalam biaya. Sepenuhnya tidak beracun, luar biasa aman untuk digunakan dan mudah untuk diatur. Fluida digunakan dapat secara aman dikombinasikan dengan spent lubricating oil dan direcycle secara lokal. Fluida NF dispesifikasikan dalam berbagai jenis aplikasi. Paratherm NF kuat dan tahan lama dengan riwayat terbukti sukses di bawah kondisi tuntutan, selain itu mudah dan aman untuk dirawat.


- Aplikasi termasuk :
o Reaktor kimia
o Proses makanan
o Portable electric temperature control unit
o Electric heater

Paratherm GLT
- Paratherm GLT adalah fluida transfer panas berdasarkan aromatik teralkilasi yang diformulasikan untuk fase liquid dengan loop tertutup sistem pemanas sampai 550oC menggunakan heater berapi dan sampai 575oF pada sistem recovery panas buangan.
- Aplikasi meliputi :
o Proses gas
o Liquid terminal tank heating
o Asphalt plants
o Produksi plastik
UCON
- Fluida UCON memiliki karakteristik transfer panas lebih baik dibandingkan petroleum oil dalam perbandingan viskositasnya. UCON memiliki stabilitas panas dan oksidasi yang sempurna, dan secara luas digunakan dalam sistem transfer panas terbuka. Fluida UCON memiliki titik flash dan titik api yang tinggi, ketika digunakan dengan baik, memiliki kecenderungan untuk membentuk lumpur, karbonisasi, dan kesalagan permukaan transfer panas. UCON memiliki konduktivitas thermal lebih tinggi dibandingkan dengan petroleum oi dan tidak mengandung PCB.
- Aplikasi meliputi :
o Heat treating
o Proses plastik
o Proses elastomer
o Proses pembuatan benang
- Proses transfer panas cepat dan seragam dan digunakan dalam open bath sampai suhu 204oC.
- Bersifat larut dalam air, ganya sedikit penambahan air yang dibutuhkan untuk membuang fludida residu dari bagian atau zat proses yang lain.

SENYAWA PEMANAS DAN PENDINGIN
Berikut ini adalah senyawa sintetis yang dapat berfungsi sebagai media pemanas dan media pendingin
Paratherm MG
- Fluida tunggal pemanasan/pendinginan- Grade Makanan, fluida transfer panas berdasarkan hidrokarbon alifatik diformulasikan untuk penggunaan dalam sistem transfer panas fase liquid dalam loop tertutup sampai 550oF pada heater berapi, dan sampai 580oF pada heater full konveksi dan unit imersi elektrik.
- Grade makanan (NSF tersertifikasi) fluida tunggal pemanasan/pendinginan dari 36°F to 550°F. Menghilangkan masalah desain dan pemeliharaan yang disebabkan oleh temperatur kontrol sistem steam/chilled water.
- Temperatur start-up cepat rendah.
- Aplikasi meliputi :
o Reaktor batch kimia
o Proses kimia kontinu dengan multiple loop
o Proses plasti
o Proses makanan
o Pabrik gas
o Switch Condenser
HITEC
- HITEC adalah fluida transfer panas yang digunakan antara steam dan pemanasan dengan api secara langsung, dengan operasi pada temperatur tinggi, digunakan dalam proses kimia dan petroleum, dan merupakan media transfer panas yang efisien dan ekonomis.
- HITEC yang baru disiapkan adalah padatan putih dan granular, dan ketika meleleh berwarna kuning pucat. HITEC adalah campuran eutektik dari water-soluble, garam anorganik potasium nitrat, sodium nitrit dan sodium nitrat. HITEC adalah media transfer panas untuk proses pemanasan dan pendinginan antara 300-1100oF (149-538oC) yang digunakan dalam proses operasi seperti :
o Pemeliharaan temperatur reaktor
o Distilasi dengan temperatur tinggi
o Reaktan preheating
o Rubber curing
o Rotational molding
- HITEC digunakan karena memiliki titik leleh yang rendah (288oF, 142oC), koefisien transfer panasnya tinggi, mempunyai kestabilan thermal, dan harganya rendah. HITEC bersifat non-fouling – biasanya dikenal merusak kebanyakan media transfer panas organik. HITEC bersifat nonflammable, non-eksplosif, dan dikembangkan tidak memiliki racun uap dibawah kondisi pemakaian yang direkomendasikan.
- HITEC memberikan biaya investasi dan operasi yang minimum, dapat digunakan pada tekanan atmosferik dimana menghilangkan kebutuhan peralatan bertekanan tinggi yang mahal. HITEC memiliki derajat korosifitas yang rendah ke arah zat konstruksi yang umum.
- Karena koefisien transfer panas dan kapasitas panasnya yang tinggi, ukuran peralatan dan luas permukaan transfer panas dapat diminimumkan. Pemeliharaan dan biaya tenaga untuk sirkulasi garam adalah rendah.
- Sifat khusus :
o Freezing point : 288°F (142°C).
o Viscosity : 300-820°F (149-438°C)
o Electrical Resistivity : 1.7 Ω•cm
o Thermal Stability :
 Transfer panas sangat stabil, tanpa kontaminan, campuran garam memberikan pelayanan sempurna pada beberapa tahun pada temperatur lebih dari 850°F (454°C).
o Densitas : dapat dilihat dalam gambar
o Thermal Conductivity : dapat dilihat dalam gambar
o Thermal expansion :
 Solid : 2.85 x 10-5/F (5.13 x 10-5/C)g.
 Liquid : 2.016 x 10-4/F (3.629 x 10-4/C)h.
o Specific heat : 0.32 cal/g•C (Btu/lb•F) untuk solid
o Latent heat of fusion : 20 cal/g (35 Btu/lb).
U-TEC-TIC
- U-TEC-TIC adalah media transfer panas yang terutama digunakan dalam pemanasan dan pendinginan pada sistem yang beroperasi antara 150° - 540°C (300° - 1000°F).
- Aplikasi meliputi :
o Rubber curing
o Rotational molding
o Pre-heating of reactant material
o High temperature distillation
- U-TEC-TIC beroperasi pada tekanan atmosferis dimana menghilangkan kebutuhan terhadap peralatan proses yang mahal. U-TEC-TIC tidak eksplosif, non-flammable dan non-fouling ketika digunakan dibawah kondisi yang direkomendasikan. Pemeliharaan yang mahan dan biaya tenaga dapat diminimalisasi dalam sistem yang menggunakan U-TEC-TIC. U-TEC-TIC berkelakuan seperti fluida norma dan pada korelasi standar digunakan dalam desain peralatan heat-exchange.
- Komposisi dan Karakteristik :
U-TEC-TIC adalah campuran garam anorganik yang larut dalam air.
o Potassium Nitrate 53%
o Sodium Nitrite 40%
o Sodium Nitrate 7%
- Stabilitas Thermal : sempurna
- Transfer co-efficient : sempurna
- Liquification point and stability : U-TEC-TIC mudah meleleh menggunakan steam secara langsung atau dengan coil atau perlatan steam berjaket dengan tekanan serendah 60 psig.
- U-TEC-TIC dapat memberikan pelayanan dalam beberapa tahun jika range operasi ditentukan 142° to 450°C (288° to 850°F).
- Thermal dekomposisi terjadi pada range 450° to 540° C (850° -1000°F) ketika digunakan dalam sistem tertutup.
- Koefisien ekpansi thermal linier : 5.13 x 10-5/°C
- Electrical resistivity : 1.7 Ω • cm untuk liquid
- Efficiency : sangat efisien jika dibandingkan dengan udara panas pada tekanan 3 atm.
- Specific heat :
o Solid : 0.32 cal/g.°C
o Liquid : 0.37 cal/g.°C
- Latent heat of fusion : 20 cal/g. (35 BTU/lb.)
(www.hummelcroton.com)
PENUTUP
Dari uraian materi di atas dapat ditarik sebuah garis besar bahwa :
- Media pendingin maunpun media pemanas dapat berupa senyawa alam ataupun senyawa sintetis yang dibuat untuk menggantikan senyawa alam.
- Dalam pemilihan media pendingin dan media pemanas harus mempertimbangkan sifat-sifat internal dari fluida dan sifat-sifat eksternal lainnya yang berkaitan, seperti viskositas, densitas, kapasitas panas, entalpi sampai dengan biaya yang harus dikeluarkan dalam pemiliharaan maupun biaya tenaga.
- Ada beberapa fluida yang hanya berfungsi sebagai media pendingin saja, sebagai contoh calcium chloride, HFC 227, dan Trichloro ethylene.
- Ada beberapa fluida yang hanya berfungsi sebagai media pemanas saja, sebagai contoh Paratherm HR, Paratherm NF, Paratherm GLT, dan UCON.
- Namun ada juga fluida yang selain bisa berfungsi sebagai media pendingin, juga bisa berfungsi sebagai media pemanas, hal ini dikarenakan range-temperatur yang dimiliki fluida sangat luas. Sebagai contoh adalah, Paratherm MG, HITEC, dan U-TEC-TIC.

26.10.10

Media Pemanas dan Pendingin-bagian IV

Trichloroethylene
- Senyawa kimia trichloroethylene adalah hidrokarbon terklorinasi yang umumnya digunakan sebagai pelarut dalam industri. Merupakan liquid yang non-flammable dengan bau manis. Nama IUPAC nya adalah trichloroethane. Singkatan dalam industri termasuk TCE, trichlor, Trike, Tricky, dan Tri.
- Trichloroethylene adalah pelarut efektif untuk berbagai zat organik, juga digunakan sebagai dry cleaning solvent, walaupund kemudian digantikan oleh tetrachloroethylene (dikenal sebagai perchloroethylene).
- Sifat fisis :
o Berat molekul : 131,39 gram.mol
o Appearance : Cairan tak berwarna
o Densitas : 1.46 g/cm³ (liquid) at 20 °C
o Melting point : 200 K (−73 °C)
o Boiling point : 360 K (87.2 °C)
o Kelarutan dalam air : 1.280 g/L (25°C)
o Kelarutan : ether, ethanol, chloroform
o Indeks refraktif : 1.4777 at 19.8 °C
o Hazard : berbahaya jika ditelan atau dihirup


- Sifat kimia :
o Dibuat dari asetilen melalui 2 tahap.
Mereaksikan klorin dengan katalis feri klorida pada 90oC untuk menghasilkan 1,1,2,2-tetrachloroethane.
HC≡CH + 2 Cl2 → Cl2CHCHCl2
1,1,2,2-tetrachloroethane kemudian dihidroklorinasi menghasilkan trichloroethylene.
2 Cl2CHCHCl2 + Ca(OH)2 → 2 ClCH=CCl2 + CaCl2 + 2 H2O
o Dapat dibuat dari etilen.
Etilen diklorinasi melalui katalis feri klorida untuk menghasilkan 1,2-dichloroethane.
CH2=CH2 + Cl2 → ClCH2CH2Cl
Dipanaskan sampai 400oC dengan penambahan klorin, 1,2-dichloroethane diubah menjadi trichloroethylene
ClCH2CH2Cl + 2 Cl2 → ClCH=CCl2 + 3 HCl.
(www.wikipedia.com)

UNTUK MEDIA PEMANAS SINTETIS
Paratherm HR
Fluida transfer panas, Paratherm HR adalag aromatik teralkilasi berdasarkan fluida transfer panas yang dirumuskan untuk pemanasan fase liquid dengan loop tertutup sampai 650°F pada heater berapi dan 675°F pada recovery (pengembalian) buangan panas dan heater full konveksi.
Aplikasi termasuk :
- Proses gas
- Proses kimia
- Recovery buangan minyak
- Produksi biodiesel
- Proses plastik
Stabilitas Temperatur Tinggi :
Paratherm HR fluida transfer panas memberikan stabilitas panas lebih besar dibandingan aromatik pesaingnya berdasarkan fluida dengan range temperatur yang mirip. Uji (ASTM D6743) memperlihatkan bahwa, dibandingkan dengan kompetitor terdekatnya, Paratherm HR mengalami ½ dari jumlah degradasi fluida ketika berada bekerja 700oF selama 500 jam. Lebih sedikit degradasi berarti lebih sedikit pemeliharaan dan umur fluida lebih panjang.
Startup Temperatur Rendah :
Pompa sentrifugal secara umum menetapkan viskositas fluida pada temperatur operasi yang diinginkan (biasanya kurang dari 2 cp). Kapasitas secara signifikan terletak diatas 300 cp. Sehingga temperatur start-up aktual minimum dari fluida adalah dimana kurva viskositas melintasi garis 300 cp. Paratherm HR dengan temperatur start-up dingin lebih rendah dari 13oF (-11oC) memberikan keuntungan signifikan dibanding dengan temperatur tinggi fluida lainnya.
Penyimpanan Fluida :
Drum akan disimpan di dalam untuk mencegah air menjadi fluida transfer panas. Jika drum tertutup harus diletakkan di luar, drum akan disimpan pada sisi mereka. Sedangkan tote tertutup adalah tahan cuaca, tote tidak akan disusun jika diletakkan di luar. Jika fluida disimpan di luar di bawah temperatur minimum pompa, kontainer akan dipindah ke dalam untuk dipanaskan sebelum memasukkan fluida ke dalam sistem.

Memindahkan Fluida yang Ada :
Pada beberapa kasus, memindahkan fluida melibatkan saluran dan isian. Hanya ada sedikit fluida yang sangat berlawanan dimana 10-15% residu akan mempengaruhi Paratherm baru.
Memindahkan Sistem Baru :
Kecuali jika diperlukan untuk alasan kualitas produk, sistem baru tidak butuh untuk dibersihkan sebelum Paratherm dipindahkan. Jumlah dari lapisan kimia, minyak, dan residu produksi yang lain biasanya tidak cukup untuk mempengaruhi umur fluida.
Analisis Fluida :
Fluida pada sistem yang baru akan di uji dalam 9 sampai 12 bulan untuk start-up. Fluida baru dalam sistem yang dipindahkan akan di uji pada bulan pertama operasi untuk menetapkan base line untuk pengujian di waktu yang akan datang

Media Pemanas dan Pendingin-bagian III

3. Salt Brines
Berikut ini adalah contoh dari salt brines yang dipilih, yaitu calcium chloride.
CALCIUM CHLORIDE
Larutan aqueous calcium chloride digunakan secara luas sebagai brine sirkulasi. Merupakan larutan brine dengan harga terendah kedua, freezing point yang lebih rendah dari larutan calcium chloride membuatnya lebih digunakan dibandingkan dengan sodium chloride. Brine calcium chloride digunakan pada tingkat temperatur 37,2oC (-35oF).
Kerugian utama dari penggunaan calcium chloride adalah :
1. Tingkat korosifnya sangat tinggi.
2. Dengan cepat mengurangi koefisien transfer panas di bawah -20,6oC (-5oF).
3. Tidak dapat digunakan dalam kontak langsung dengan makanan.


SINTETIS
Refrigerant-HFC-227
1. Pendahuluan
Refrigerant yang baiknya harus memiliki :
- Keamanan : tidak beracun, nonflamable, dan tidak eksplosif
- Ramah terhadap lingkungan
- Cocok digunakan dengan zat yang biasanya digunakan dalam pendinginan : minyak (oil), logam, elastomer, dan sebagainya.
- Sifat termodinamika dan termofisika yang diinginkan :
o Panas laten tinggi
o Specific volume vapor rendah
o Rasio kompresi rendah
o Tekanan rendah layuk untuk temperatur operasi
o Specific heat dari liquid rendah
o Specific heat dari vapor tinggi
o Konduktivitas tinggi dan karakteristik transfer panas lain yang berhubungan.
o Mudah dideteksi jika bocor
o Kestabilan sangat baik
o Dielektrik tinggi tetap
(Perry, 2007)
HFC-227
Nama lain : 1,1,1,2,3,3,3-Heptafluoropropane, heptafluoropropane, HFC-227ea (ISO name), Apaflurane, R-227ea.
Nama IUPAC : 1,1,1,2,3,3,3-Heptafluoropropane
HFC-227 adalah gas halokarbon yang tidak berwarna dan tidak berbau. Secara umum digunakan sebagai gas pemadan api.
Rumus kimianya adalah CF3-CHF-CF3, or C3HF7. Dengan titik didih -16,4oC, adalah berbentuk gas pada temperatur kamar. HFC-227 sedikit larut dalam air (260 mg/L).

Sifat fisis :
- Berat molekul : 170,03 gram/mol
- Densitas : 1.46 g/cm³ at -16 °C
- Melting point : -131 °C
- Boiling point : -16,4 °C
Kegunaan :
HFC-227ea ditemukan dalam penggunaan dalam sistem pemadaman api pada fasilitas data proses dan telekomunikasi, dan dalam perlindungan liquid dan gas yang flammable. HCF-227ea terletak pada kategori Clean Agents dan diatur oleh NFPA pada tahun 2001-Standard for Clean Agent Fire Extinguishing System. Pemadaman api efektif membutuhkan konsentrasi agen HFC-227 ea antara 6,25% dan 9% berdasarkan perlindungan bahaya. Kebanyakan sistem pemadam didesain dengan konsentrasi 6,25-9%.
Sebagai aerosol pembakar, HFC-227ea digunakan dalam pharmaceutical mengukur dosis inhaler seperti yang digunakan dalam pengobatan asma. Merupakan gas yang sangat mahal.
Keamanan :
Pada temperatur tinggi, heptafluoropropane akan terdekomposisi dan menghasilkan hidrogen fluorida. Hal ini tampak dari adanya bau yang tajam yang dapat dirasakan dalam konsentrasi jauh di bawah level bahaya. Produk dekomposisi yang lain termasuk karbon monoksida dan karbon dioksida. Kontak dengan karbon dioksida menyebabkan radang dingin.
(www.wikipedia.com)

Media Pemanas dan Pendingin-bagian II

Senyawa Sintetis dan Senyawa Alam sebagai Media Transfer Panas

Senyawa sebagai media transfer panas dibagi menjadi dua jenis, yaitu senyawa sintetis dan senyawa alam. Contoh senyawa alam sebagai media transfer panas adalah glyceryl esters dari fatty acid yang diperoleh dari lemak dan minyak hewani memiliki konduktivitas panas yang kecil, yang mengisolasi tubuh dari kehilangan atau tambahan panas radikal.
Jumlah senyawa alam sebagai media transfer panas adalah terbatas, oleh karena itu perlu dibuat senyawa sintetis sebagai pengganti senyawa alam yang berfungsi sebagai media transfer panas. Pada pendesaian senyawa kimia baru penting untuk mempertimbangkan sifat kimia, sifat fisis, dan beberapa sifat khusus seperti nuclear, electricity, toxicological.

Media Transfer Panas
Fluida transfer panas dipisahkan kedalam sejumlah kelompok yang sesuai. Sesuai dengan definisi, fluida ada dalam tiga keadaan yang berbeda : vapor, liquid, atau gas. Karena setiap keadaan fisis mempunyi set sifat yang unik.
(Geiringer)

Media Pendingin
A. BRINES-CALCIUM CHLORIDE
1. Pendahuluan
Bertambahnya syarat pada temperatur rendah pada pendinginan dalam proses industri memudahkan perkembangan jumlah brine yang digunakan untuk tugas ini. Dalam terminologi pendinginan, brine adalah liquid yang didinginkan oleh refrigerant dan bersirkulasi sebagai fluida transfer panas.
Brine mungkin :
- Larutan aqueous dari garam anorganik seperti sodium chloride dan calcium chloride.
- Larutan aqueous dari garam organik seperti alkohol atau glycol. Dan juga larutan air pada berbagai konsentrasi, termasuk methanol-air, ethanol-air, ethylene glycol, dan propylene glycol.
- Hidrokarbon dan halokarbon terklorinasi atau terfluorinasi yang meliputi methylene chloride, trichloroethylene, dan R-11.
2. Brine Selection
Pemilihan dari brine tergantung pada faktor berikut :
- Safety
Berdasarkan tingkat toksisitas dan flammabilitas.
- Freezing point
Brine harus mempunyai freezing point cukup dibawah dari temperatur operasi sistem paling rendah.
- Cost
Spesific gravity dan specific heat dari brine akan mempengaruhi biaya tenaga pemompaan.
- Application
Penggunaan pokok dari brine penting untuk mengetahui apakah peralatan proses dipasang indoor atau outdoor, dan apakah sistem berdesain terbuka atau tertutup.
- Thermal performance
Sifat transfer panas dari brine yang bersirkulasi melalui unit evaporator pendinginan memainkan bagian penting dalam menentukan luas permukaan yang dibutuhkan dan hasil temperatur penguapan.
- Corrosiveness

Media Pemanas dan Pendingin-bagian I

Fluida transfer panas, atau pembawa panas, didefinisikan sebagai fluida yang menyerap energi panas dikeluarkan oleh sumber dan kemudian, dengan pendinginan atau perubahan fasa, dilepaskan panas ke sebuah tempat pemanfaatan yang disebut sink.
Fluida berdasarkan fungsinya kemudian disebut sebagai pendingin. Selama proses panas dapat dibawa oleh konduksi, konveksi, radiasi, pendidihan, dan kondensasi. Untuk melengkapi siklus panas, fluida pendingin kembali ke posisi awalnya, dimana memperoleh fresh supply panas.
Dalam pendefisian fungsi dari pembawa panas, pada awalnya diasumsikan bahwa fluida harus mempertahankan sifat kimia dan komposisi aslinya (original chemical properties and composition).
Hanya sedikit jumlah pembawa panas seperti air, udara, dan beberapa unsur dasar, mendekati kriteria dalam mempertahankan struktur kimia yang tidak berubah. Untuk aplikasi dalam industri, kemampuan pembawa panas untuk melawan perubahan fisika dan kimia untuk waktu yang lama adalah yang terpenting. Pada kasus superficial deterioration, fluida transfer panas biasanya dapat dirawat dan akhirnya dikembalikan ke dalam sistem. Jika perubahan sifat semakin serius, fluida harus diganti setelah waktu tertentu penggunaan.
Selama proses transfer panas, kebanyakan material transfer panas mungkin mengalami perubahan keadaan fisik. Sebagai contoh, di bawah kondisi equilibrium tertentu dari temperatur dan tekanan, fase uap, liquid dan solid berlaku sendiri atau bahkan bersama. Setiap fasa digolongkan dengan set sifat yang unik. Karena itu, penting untuk memeriksa dengan teliti sifat dari setiap fluida relatif dengan keadaan fisiknya.
Dengan tujuan untuk menerapkan fluida transfer panas, pertama-tama kita harus memeriksa sifat fisika, kimia, dan fisiologis yang membatasi dan menentukan aplikasi secara tekniknya.
1. Design Properties (Heat Transfer and Transport Properties)
- Density, Specific gravity, Expansion Coefficient.
- Heat Capacity (Specific Heat)
- Heat Content (Enthalpy)
- Heat Conductivity
- Viscosity
2. Construction Properties (Limiting Properties)
- Physical Stability
- Chemical Stability
- Thermal Stability
- Radiolytic Stability
- Cost
3. Operation Properties (Handling Properties)
- Surface Tension
- Corrosion
- Flammability
- Physiological Effect
- Less Important Properties :
o Electrical Properties
o Refractive Index
o Appearance
1. Design Properties (Heat Transfer and Transport Properties)
a. Density
Densitas dari material homogen adalah beratnya per volume pada temperatur dan tekanan yang diberikan. Kebalikan dari density adalah specific volume, dilambangkan dengan huruf latin, v.
(Geiringer)
Sifat specific volume berhubungan secara langsung dengan ukuran kompresor ketika berlipatganda oleh arus berat (weight flow). Diinginkan untuk mempunyai volume penghisapan yang rendah untuk reciprocating compressor dan volume penghisapan yang tinggi untuk centrifugal compressor.
(Perry)
b. Specific gravity
Specific gravity didefinisikan sebagai rasio densitas yang diberikan oleh senyawa pada densitas senyawa referensi.
c. Heat capacity, Specific heat
Kapasitas panas (heat capacity) material didefiniskan sebagai jumlah energi panas yang diperlukan untuk menghasilkan kenaikan temperatur setiap unit massa dari material tertentu pada temperatur yang diberikan. Kapasitas panas liquid pada umumnya lebih besar dibandingkan gas dan uap.
(Geiringer)
Untuk kapasitas panas liquid, diinginkan nilai yang rendah. Sebaliknya, terlalu banyak pendinginan diperlukan untuk cairan panas yang masuk evaporator.
(Perry)
d. Heat content, enthalpy
Panas dimana energi dapat melintasi pada beda temperature, adalah bukan sifat dari zat, tapi jalur fungsi bergantung pada proses yang diperiksa. Oleh karena itu, sifat turunan yang baru disebut dengan ‘enthalpy’ atau heat content.
(Geiringer)
e. Heat Conductivity
Thermal conductivity, k, didefinisikan sebagai perbandingan tetap yang digunakan dalam Hukum Fourier. Thermal conductivity gas pada temperatur tinggi lebih besar dari kondisi lingkungan, dibandingkan dengan thermal conductivity liquid.
f. Viscosity
Sifat yang melekat pada semua fluida adalah viskositas mereka. Viskositas liquid pada umumnya naik mengikuti kompresi pada temperatur tetap. Tetapi air adalah perkecualian terhadap hal ini, viskositas air menurun dengan tekanan pada temperatur tetap. Viskositas secara langsung sebanding dengan kecepatan rata-rata (average velocity).
2. Construction Properties (Limiting Properties)
a. Physical Stability
Semua zat ada dalam salah satu dari tiga keadaan, yaitu solid, liquid, dan gas. Setiap fase secara fisik terlihat (nyata) dan memiliki set sifat fisis dan kimia yang unik.
b. Thermal Stability
Sejumlah metode dikembangkan untuk menentukan thermal stability yaitu The Isoteniscope, Test Bombs Incorporating a Pressure Gauge, dan Glass Test Apparatus. Untuk deskripsi proses-proses tersebut dapat dibaca dalam buku Handbook of Heat Transfer Media, Paul L. Geiringer.
c. Chemical Stability
Banyak fludia transfer panas merupakan campuran dari dua atau lebih zat murni. Efek dari kelarutan sangat signifikan terhadap pemilihan fluida transfer panas.
d. Radiolytic Stability
Pada reaktor nuklir, neutron berenergi tinggi dan sinar gamma secara terus-menerus membentur zat yang tidak kontak dengan fuel. Neutron memiliki kerusakan paling besar terhadap komponen padat reaktor tapi radiasi sinar gamma memiliki efek paling besar terhadap zat organik. Dua efek utama pada fluida adalah polimerisasi dan ionisasi. Polimerisasi yang disebabkan oleh radiasi secara umum menyebabkan kenaikan viskositas fluida; kadang-kadang lumpur padat terbentuk. Efek lain yang mungkin terjadi adalah gassing, coking, dan foaming. Semua faktor tersebut dapat meningkatkan korosi.
Korosi atau produk tidak diharapkan lainnya berasal dari reaksi ionisasi dalam fluida reaktor.
e. Cost-Price Class
Harga fluida adalah faktor penting dalam penentuan bidang aplikasinya.
3. Operating Properties (Handling Properties)
a. Surface Tension
Surface tension, berhubungan dengan viskositas, adalah mengukur “wettability” dari liquid. Zat dengan surface tension rendah dapat bocor melalui besi berpori atau logam lainnya, atau melalui kerusakan pada gland, joint, atau weld. “Wettability” juga penting dalam pertimbangan transfer panas, menentukan apakah film atau drop-wise condensation terjadi.
b. Corrosion
Kecenderungan fluida untuk menyerang komponen struktural yang bersirkulasi dapat mempunyai konsekuensi yang serius. Hasilnya sistem rusak atau penghalangan lintasan peralatan. Sifat korosif dari pembawa panas sangat tergantung pada impuritas yang larut.
c. Flammability
Kemampuan fluida, terutama petroleum oil dan organic liquid, untuk terbakar dan meledak kedalam bahaya api.
d. Physiological Effects
Orang (human) secara langsung bertanggung jawab terhadap pemeliharaan pabrik dan adanya efek beracun dan berbahaya dari fluida harus diketahui.
e. Special Properties
Beberapa sifat khusus mempengaruhi pemilihan pokok dari pembawa panas. Sifat elektrikalm seperti dielectric constant dan electrical resistivity menentukan kemungkinan menggunakan media dalam lingkungan listrik. Refractive index adalah sifat yang membantu untuk mendeskripsikan struktur molekuler dan komposisi kimia dari zat. Penampakan fisik, warna, dan bau adalah sifat yang mempengaruhi reaksi konsuimen pada produk yang diberikan.
(Geiringer)
4. Sifat lainnya :
a. Boiling Temperature and Pressure
Diperlukan untuk memelihara tekanan di atas atmosferik untuk menghindari kebocoran udara dan uap lembab ke dalam sistem. Boiling point dari refrigerant harus lebih rendah dari temperatur sistem yang diinginkan.
b. Freezing Temperature
Refrigerant yang dipilih harus mempunyai freezing temperature di bawah temperatur minimum pada sistem yang akan dioperasikan.
c. Critical Temperature and Pressure
Tekanan dan temperatur sistem operasi harus di bawah nilai kritis. Temperatur kritis adalah temperatur di atas dimana tidak ada jumlah tekanan yang akan mencairkan gas spesifik.
d. Condenser and Evaporator Pressure
Tekanan kondenser harus cukup lebih rendah untuk mengizinkan penggunaan peralatan dengan berat relatif ringan. Tekanan sistem operasi lebih tinggi, biaya peralatan dan pemipaan lebih besar. Tekanan evaporator tidak akan terlalu rendah sehingga rasio kompresi menjadi tinggi secara abnormal.
e. Latent Heat
Panas laten penguapan yang tinggi penting karena mempengaruhi ukuran dari efek pendinginan (refrigerating), jumlah refrigerant (pendingin) yang disirkulasikan, ukuran dan biaya pemipaan dan peralatan. Bagaimanapun, tidak akan merupakan pertimbangan tunggal tapi berhubungan dengan sifat lain seperti specific volume dari uap dan specific heat dari liquid.
f. Molecular Weight
Sifat ini secara langsung berhubungan denga specific volume dari uap, berat molekul yang lebih tinggi, specific volumenya akan lebih tinggi juga. Untuk aplikasi kompresor sentrifugal, membutuhkan jumlah gas yang besar, refrigerant akan mempunyai berat molekul yang tinggi.
g. Theoretical Horsepower per Ton
Pada tingkat proses pengaturan suhu, nilai ini kira-kira sama untuk kebanyakan refrigerant. Hal ini menjadi lebih penting pada temperatur lebih rendah.
h. Discharge Temperature
Refrigerant yang memiliki pelepasan suhu kompresor relatif tinggi mungkin menyebabkan kerusakan minyak dan pembentukan sludge (lumpur).
i. Miscibility
Pertolongan miscibility (daya campur) dalam pengembalian minyak dari evaporator ke kompresor dalam aplikasi reciprocating, sehingga meminimasi masalah ini.
j. Safety Aspects
Refrigerant dikelompokkan menurut toksisitas dan flammabilitasnya. Hidrokarbon terhalogenasi seperti R-12, R-22, R-502, dan R-13 diklasifikasikan oleh ASA Standard B9.1 sebagai kelompok 1. Kelompok 1 adalah paling sedikit resiko (bahaya) terhadap flammabilitas, keeksplosifan, dan toksisitas dapat diabaikan. Sebagaimana nomor kelompok semakin besar, bahaya akan semakin besar. R-717, methyl chloride, dan sulfur dioxide termasuk dalam refrigerant kelompok 2, yang beracun, flammable, atau keduanya. Refrigerant kelompok 3 memiliki flammable yang tinggi dan eksplosif, yang termasuk dalam kelompok ini adalah propane, propylene, ethylene, ethane, methane, butane, dan isobutane.
(Perry)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More